Perguruan tinggi semestinya menjadi pusat inovasi Pemerintah dalam mengatasi pandemi COVID-19 di Indonesia. Sebab, penelitian dan pengembangan serta pengabdian kepada masyarakat, dua dari Tridharma perguruan tinggi ini sudah selayaknya dikerahkan guna melawan wabah yang telah memakan banyak korban jiwa dari seluruh dunia. 

Pada Maret 2020 lalu misalnya, ketika virus Corona masuk pertama kali di Indonesia, sejumlah perguruan tinggi gerak cepat mengembangkan berbagai inovasi untuk menekan pandemi ini. Sederet temuan aplikatif dihasilkan dan kualitasnya tidak kalah saing dibanding produk kesehatan dari luar negeri.

Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FT UI) bahkan hingga saat ini sudah memiliki puluhan produk riset inovasi yang dikontribusikan untuk Indonesia dalam penanganan COVID-19. Berbagai inovasi itu menunjukkan universitas bisa merespons cepat situasi darurat yang terjadi saat ini.

 “Kami menyadari kondisi pandemi COVID-19 ini merupakan permasalahan yang kompleks dan multidimensi. Dampaknya pada berbagai area masyarakat memerlukan mitigasi dan adaptasi lintas ilmu untuk mencari solusinya. FTUI memandang permasalahan yang ada sebagai tantangan yang perlu dijawab dengan karya inovasi FTUI,” ujar Dekan FTUI Hendri D.S. Budiono.

Hendri mengatakan dengan kolaborasi yang dinamis dengan fakultas-fakultas lain di UI, seperti Fakultas Kedokteran UI, Ikatan Alumni FTUI, industri dan masyarakat, pihaknya berhasil menggagas, mengembangkan, memproduksi dan mendistribusikan hasil penelitian yang dapat digunakan untuk membantu mengatasi pandemi COVID-19 di Indonesia.

Berikut 10 inovasi FT UI dalam penanganan COVID-19 di Indonesia.

1. COVENT-20 (COVID-19 Ventilator 2020)

Manajer Riset dan Pengabdian Masyarakat FT UI Muhamad Sahlan mengatakan ventilator atau alat bantu pernapasan menjadi salah satu kebutuhan penting dalam merawat pasien virus Corona (COVID-19) baik di dunia termasuk diIndonesia. Oleh karenanya, FT UI juga memproduksi ventilator ini yang diberi nama COVENT-20.

Menurutnya COVENT-20 buatan FT UI bekerja dengan memberikan ventilasi tekanan positif dengan CMV (Continuous Mandatory Ventilation) untuk pasien yang kesulitan bernapas dan perlu dikontrol dengan mesin.

“Alat ini juga dilengkapi dengan mode CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) untuk memberikan oksigen pada pasien yang masih sadar dan bernapas spontan,” ungkapnya

2. Flocked Swab

Kedua, kata Sahlan, adalah inovasi Flocked Swab HS-19. Ini merupakan alat bantu uji usap untuk mengambil cairan hidung tenggorok. Bentuknya seperti korek kuping tapi dengan ukuran lebih panjang dan lentur. Saat ini Flocked Swab buatan anak bangsa ini telah diproduksi dan didistribusikan ke berbagai daerah.

“Flocked Swab ini hasil kolaborasi peneliti di FT UI dengan beberapa industri yang terkait dengan perusahaan plastik,polimer, fiber dan lain-lain. Di antaranya Dynapack Asia Pte Ltd, PT Chandra Asri Petrochemical, PT Indachi Prima, PT Langgeng Jaya Fiberindo, PT Ingress Malindo Ventures dan PT Sri Tita Medika,” terangnya.

adv

3. Swab Test Chamber

Lebih lanjut, Sahlan menuturkan dalam mengoptimalkan pengambilan sample melalui Flocked Swab ini, FT UI juga turut membuat Swab Test Chamber untuk tenaga medis sebagai salah satu alternatif yang dapat digunakan sebagai alat penunjang pemeriksaan swab PCR untuk virus Corona.

“Selain merasakan aman, tenaga medis yang memeriksa pasien dengan menggunakan Swab Test Chamber ini juga akan merasa nyaman karena di dalamnya sterildan tidak panas,” ungkapnya.

adv

4. Movable Hand Washer

Inovasi keempat FTUI ini berkolaborasi dengan FKUI yang didukung oleh Ikatan Alumni UI (ILUNI) untuk memenuhi fasilitas kebersihan cuci tangan yang terbatas untuk para pekerja yang sehari-hari bekerja dijalanan dan tidak memiliki akses untuk menggunakan hand sanitizer.

Keberadaan alat ini, kata Sahlan, bersifat mencegah sesuai dengan prinsip (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Sejauh ini, Movable Hand Washer sudah ditempatkan diberbagai lokasi Jabodetabek hingga Bandung.

5. Alat Disinfeksi Udara PUVICON DSF-01 dan PUVICON DSF-02

Sahlan menjelaskan inovasi PUVICON DSF-01 merupakan generasi awal dari jenis alat disinfeksi udara dengan menggunakantiga teknologi sekaligus, sinar UVC, ozon, dan plasma dingin anion. Prinsip disinfeksi dan sterilisasi udara (lembap atau kering) dari alat ini menggunakan Teknologi PUVICO3, artinya udara yang masuk ke dalam alat dengan metode hisapan Fan Turbin langsung masuk ke dalam ruang cyclone turbin fan.

Sama dengan generasi awal, PUVICON DSF-02 dirancang lebih bertenaga dan efisien dibandingkan dengan PUVICON DSF-01, karena alat ini dapat secara langsung dan praktis melakukan disinfeksi dan sterilisasi di udara kering dari ambien sekitar tanpa perlu penanganan khusus, sehingga cocok dalam kondisi iklim apapun.

6. Alat Disinfeksi Udara PUVICON DSF-03 dan PUVICON WAH-01

PUVICON DSF-03 serupa dengan generasi sebelumnya, hanya saja alat tersebut dirancang dua kali lebih bertenaga dan efisien dibanding DSF-02, yaitu dalam hal melakukan disinfeksi dan sterilisasi di udara kering. Udara berplasma pada DSF-03 dilakukan dengan 3 kecepatan sehingga sangat efektif merusak bakteri dan virus.

Kemudian PUVICON WAH-01, alat yang dirancang secara khusus sebagai ruang untuk melakukan disinfeksi dan sterilisasi udara basah dan lembap. Alat ini dinilai sangat cocok di daerah-daerah dengan iklim panas dan kering. Terlebih alat ini juga telah banyak dipakai dan diujicobakan di beberapa masjid dan pesantren di Kota Bogor, Kabupaten Bogor dan Depok.

7. Bilik Disinfeksi PUVICON BDC-01/02

Sahlan kembali menjelaskan inovasi FT UI yang ketujuh yakni Bilik Disinfeksi BDC-01/02. Menurutnya, alat ini dirancang khusus sebagai ruang untuk melakukan disinfeksi dan sterilisasi tubuh manusia bagian luar.

Namun, perbedaan inovasinya yaitu media yang digunakan untuk disinfeksi adalah dalam wujud gas dan plasma dingin yang diproses dengan teknologi PUVICO3. Teknologi tersebut dapat melakukan pembersihan dan sterilisasi udara sekaligus ozonasi ringan (mild ozonation) diikuti dengan injeksi Plasma Anion (ion negatif) secara kontinyu dan simultan di dalam LTC dan RTC.

8. SALAM (Sterilisasi Lantai Masjid)

Kemudian kedelapan adalah SALAM yakni Sterilisasi Lantai Masjid. Fusi Foundation sebagai forum silaturahmi alumni Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) dan Yayasan Masjid Nusantara (YMN) beberapa waktu lalu sempat memperkenalkan teknologi SALAM ini ke publik.

Teknologi tersebut diwakafkan untuk bangsa Indonesia sebagai upaya dalam menghadirkan keamanan dan kenyamanan beribadah dari ancaman COVID-19. Alat berbasis sinar ultraviolet UV-C ini bahkan diklaim sangat efektif dalam memberantas COVID-19 yang menempel di lantai karena menggunakan kadar UVC yang tepat.

adv

9. MaRoCo (Makara Robot for Contagious Disease)

Inovasi kesembilan dari FT UI merupakan robot multifungsi yang bertujuan untuk melayani pasien-pasien yang terkena penyakit menular. Robot tersebut didesain dengan sistem pengendalian teleoperasi yang dapat membantu interaksi jarak jauh dengan pasien, tanpa mengeliminasi kewajiban seorang perawat.

Secara keseluruhan Robot Pelayan pasien ini terbagi menjadi lima modul besar. Di antaranya, modul mobile platform, module rotating tray, modul disinfeksi, modul komunikasi dan modul teleoperasi. Diketahui, untuk mengendalikan robot ini, pengguna menggunakan joystick untuk memberi perintah terutama kecepatan dan arah gerak robot.

adv

10. Propolis Indonesia sebagai Terapi COVID-19

Menurut Sahlan, Propolis Indonesia ini berasal dari lebah tidak menyengat Tetragonula spp. di Sulawesi Selatan. Propolis tersebut diklaim terbukti memiliki komponen penghambat alami yang dapat digunakan untuk menghasilkan obat dengan efek negatif minimal baik terhadap tubuh manusia maupun sumber daya alam yang tersedia. Propolis Indonesia ini sedang diuji sebagai terapi pendamping dalam pengobatan COVID-19.

Hasil pengujian Propolis ini memperlihatkan tiga dari sembilan senyawa yang ada di propolis asli Indonesia memiliki kekuatan menempel yang cukup baik pada virus COVID-19. Bila senyawa N3 memiliki nilai -8, senyawa Sulawesins a memiliki nilai -7.9, Sulawesins b (-7.6) dan deoxy podophyllotoxin (-7.5).

“Jadi, semakin negatif nilai yang dimiliki menunjukkan semakin besar kemampuan senyawa menempel pada virus COVID-19. Hal ini membuat virus tidak dapat menempel pada sel hidup manusia untuk kemudian berkembang biak,” jelasnya.

Itulah 10 inovasi FTUI yang telah dikontribusikan untuk penanganan COVID-19 di Indonesia. Selain, inovasi yang dijelaskan di atas, ternyata masih banyak lagi hasil riset inovasi yang berkaitan dengan COVID-19 yang dijalankan FT UI sebagai salah satu fakultas terbesar dan tertua di UI. Di antaranya adalah Alat Bantu Penyedia Udara Bersih untuk Tenaga Kesehatan NSN20, Human Friendly UVC serta Rumah Isolasi Pemulihan pasien COVID-19.

Dekan FT UI Hendri D.S. Budiono mengatakan apa yang telah dihasilkan oleh Tim Peneliti FT UI ini tentu telah melewati berbagai tantangan yang begitu banyak dalam pengadaan alat kesehatan. Tentunya ia berharap, produk riset yang dihasilkan dapat dikomersialkan demi kemajuan bangsa, sebab menurutnya produk dalam negeri tidak kalah saing dengan luar.

“Saya berharap salah satunya bisa presisi kebijakan untuk komersialisasi ya, kebijakan ini lebih mudah untuk bisa mengkomersialisasi produk nya, jadi kita memang bisa bersyukur juga, kalau kita lihat di pemerintah sudah mendorong ke arah situ, ada PMK untuk pembagian lisensi dan sebagainya,” terangnya.

“Jadi saya ingin lebih fokus. Pasti semua pengin ini kan, karena dengan ini kita akan tahan, jadi kalau saya ditanya harapannya apa, saya butuh alat, nah kalau kita udah ke sini bahwasanya pemerintah juga harus fokus untuk mengadakan alat-alat kesehatan di dalam negeri ini,” pungkasnya.

Sebagai informasi, saat ini FTUI yang menduduki peringkat 295 dunia berdasarkan QS World University Rangkings 2020 untuk Engineering and Technology, menyelenggarakan program pendidikan teknik mulai dari program sarjana (reguler, paralel, dan internasional), program profesi (Insinyur dan Arsitek), program magister (kelas reguler, khusus dan program multidisiplin), serta program doktor.

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pada bidang ilmu tertentu, pada tahun 2021 FTUI akan membuka beberapa program studi baru seperti Program Studi S2 Teknik Lingkungan, S2 Manajemen Integritas Material, dan S2 Perencanaan Wilayah dan Kota.

 

Artikel ini dikutip dari detik.com dengan judul: 10 Inovasi Riset FT UI: Ventilator hingga Obat Terapi COVID-19
http://news.detik.com/adv-nhl-detikcom/d-5247767/10-inovasi-riset-ft-ui-ventilator-hingga-obat-terapi-covid-19http://news.detik.com/adv-nhl-detikcom/d-5247767/10-inovasi-riset-ft-ui-ventilator-hingga-obat-terapi-covid-19

FacebookTwitter
X