kabin-menyusui

Saat ini, kegiatan ibu menyusui semakin marak digaungkan dan dilakukan oleh masyarakat perkotaan, baik dari individu ibu sendiri hingga organisasi non-profit seperti AIMI. Yang lebih membanggakan, masyarakat pun sudah semakin menyadari pentingnya kegiatan menyusui bagi kesehatan ibu dan bayi. Namun, berdasarkan  penelitian terdahulu yang pernah dilakukan oleh tim kami, yang dikepalai oleh Rini Suryantini, MSc., dengan judul “Ruang Laktasi di Kota: Kebutuhan dan Keberadaan Ruang Laktasi pada Fasilitas Umum” (2012), ditemukan masih sangat kurangnya fasilitas bagi ibu menyusui dan bayi terutama di fasilitas umum  publik, sementara sebaliknya, terdapat keinginan besar para ibu untuk dapat menyusui dengan aman dan nyaman dimanapun mereka berada.

Untuk dapat memenuhi tuntutan pengadaan fasilitas menyusui tersebut, tidaklah mudah apabila tidak direncanakan dengan baik sejak awal. Pada banyak fasilitas umum, ruang menyusui umumnya berupa ruang yang ditambahkan kemudian, sehingga seringkali berada di lokasi yang kurang strategis dan aksesibilitasnya menjadi kendala tersendiri bagi sang ibu.

Berangkat dari keadaan dan hasil riset tersebut, maka tim dosen dari Departemen Arsitektur  UI yang beranggotakan Enira Arvanda, M.Dipl., Nevine Rafa, MA dan Rini Suryantini MSc. menjalankan sebuah program pengabdian masyarakat yang didanai oleh Direktur Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia (DRPM UI) berupa pengadaan kabin menyusui yang dianggap dapat menjadi solusi bagi permasalahan pengadaan fasilitas tersebut, khususnya di fasilitas umum publik.

Pada program ini, kami menitikberatkan pada pengadaan fasilitas untuk ruang transit transportasi publik, dikarenakan oleh urgensi dan karakteristik ruang tersebut yang kompleks dan unik, karena manusia di dalamnya tengah berada dalam mobilitas sehingga ada faktor waktu yang sangat menentukan. Stasiun kereta api merupakan salah satu fasilitas umum yang vital bagi mobilitas masyarakat ibukota. Adapun tim kami memilih Stasiun Kota dan Depok Baru menjadi lokasi program karena merupakan stasiun jarak jauh dan stasiun transit yang paling utama dan sibuk, sehingga kebutuhan akan ruang menyusui yang memadai lebih mendesak dari stasiun lainnya.

Kabin menyusui ini dibuat sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah dan cepat diaplikasikan pada titik-titik tertentu di area stasiun yang dianggap strategis. Kelebihan dari desain kabin adalah dapat mudah diaplikasikan, dapat diduplikasi sesuai dengan kebutuhan (modular), dapat langsung diaplikasikan di area tunggu dengan menggunakan fasilitas eksisiting (tidak perlu merenovasi area), sangat efisien penggunaan volume ruangnya, mudah dibongkar pasang sehingga gampang disimpan apabila tidak dibutuhkan, serta biaya pembuatan modul kabin lebih ekonomis ketimbang membuat ruang menyusui konvensional.

Studi kebutuhan dan desain awal kabin menyusui portabel yang diajukan telah dikembangkan oleh timdan diharapkan melalui program pengabdian masyarakat ini dapat direalisasikan prototipenya agar dapat diterapkan dan dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat luas. Adapun pada program ini, kami menggandeng PT. KAI sebagai partner dalam mewujudkan terlaksananya program pengadaan kabin menyusui. Selain itu, kami juga mendapatkan dukungan yag luar biasa dari AIMI Jakarta dan KRLmania.

Harapan kami terhadap pengadaan program ini kedepannya adalah mampu menjadikan ruang kota lebih friendly terhadap ibu, anak dan manula. Hal ini dikarenakan selama ini yang mejadi acuan desain sebuah ruang adalah orang-orang sehat dewasa, dan umumnya laki-laki, sehingga well beingfor everyone menjadi acuan utama dalam proses mendesain area publik di fasilitas umum. (Arsitektur FTUI)

FacebookTwitter
X