FacebookTwitterGoogle+PinterestShare

Indonesia merupakan salah satu Negara penghasil nikel di dunia dari jenis lateritic. Dari segi potensi cadangan, pada tahun 2016 indonesia menempati urutan ke-tujuh setelah Philipina dengan potensi cadangan sebesar 4,5 juta MT dari total seluruh cadangan nikel dunia. Sedangkan produksi menempati urutan ke-enam dengan produksi sebesar 168 000 MT tahun 2016. Hal ini menunjukkan posisi penting Indonesia di dunia pertambangan bijih nikel.

Berdasarkan studi karakterisasi awal bijih, mineral utama yang terkandung dalam bijih nikel laterit Indonesia berkadar rendah adalah lizardite, kuarsa, goethite dan sejumlah minor talc. Pada temperatir tinggi maka akan menghasilkan forsterite, olivine (campuran forsterite dan fayalite), silica dan enstatite. Talc yang khas ini akan menghasilkan enstatite. Berbeda dengan forstite dan olivine yang menghambat reduksi nikel, enstatite diketahui sedikit menghambat reduksi nikel.

Temperatur yang paling baik untuk menghasilkan grade nikel paling tinggi yaitu 1100 celcius. Jenis reduktor akan mempengaruhi persentase reduksi dengan batu-bara jenis lignit dan batu-bara dengan penambahan sulfur 0,5% akan menghasilkan partikel logam Fe-Ni dengan grade yang lebih tinggi dibanding reduksi dengan batu bara saja. Dengan pertimbangan potensi sumber reduktor yang melimpah di Indonesia dan potensi bijih nikel laterit, maka telah dilakukan suatu penelitian prekonsentrasi bijih nikel laterit dengan reduksi menggunakan batu-bara dan penambahan aditif yang mengandung unsur sulfur.

Dr. Iwan Setiawan berhasil mempertahankan disertasinya di bidang Ilmu Teknik Metalurgi dan Material yang berjudul “Pengaruh Penambahan Kalsium Sulfat, Natrium Hidroksida Dan Sulfur Pada Reaksi Karbotermik Nikel Laterit Indonesia” pada sidang promosi doktor yang dilaksanakan di Ruang K301 FTUI pada Rabu (12/7/2017).

Bertindak sebagai Ketua Sidang sekaligus Penguji1 Prof. Dr.-Ing. Ir. Bambang Suharno, Promotor Dr. Ir. Sri Harjanto, Ko-Promotor 1 Dr. Ir. Andi Rustandi, Ko-Promotor 2 Dr. Ir. Rudi Subagja, dengan penguji terdiri dari Dr. Ir. Sri Harjanto, Dr. Ir. Andi Rustandi, Prof. Dr. Ir. Johny Wahyudi S., DEA, Dr. Deni Ferdian, ST. M.Sc, Dr. Adji Kawigraha, MT. (Humas FT)