id
id

Dosen FTUI Teliti Sanitasi Perkotaan Berketahanan terhadap Perubahan Iklim

Perubahan iklim yang terjadi merata diseluruh dunia, memberikan dampak negatif pada berbagai aspek kehidupan salah satunya adalah dampak pada sanitasi lingkungan. Berangkat dari kondisi ini, Tim pengabdian masyarakat dari Universitas Indonesia (UI), Institute for Sustainable Futures, University of Technology Sydney (UTS-ISF), bersama dengan Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB) mengadakan Lokakarya Analisis Dampak Iklim dan Metode Penentuan Prioritas Adaptasi pada tanggal 26-28 Juli 2022 di Hotel Rattan Inn, Banjarmasin.

Anggota tim pengabdian masyarakat ini terdiri dari peneliti Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), UTS-ISF dan Fakultas Teknik UMB. Tim dipimpin oleh Dr. Cindy Rianti Priadi, S.T., M.Sc. (FTUI) dan Dr. Jeremy Kohlitz (UTS-ISF). Lokakarya yang berlangsung selama tiga hari ini mengundang sejumlah pengambil keputusan di pemerintah daerah Banjarmasin seperti Organisasi Perangkat Daerah (OPD), seperti dinas PUPR, Dinasi Lingkungan Hidup, Perumda PAL setempat.

“Lokakarya ini mengangkat isu perubahan iklim dan dampaknya terhadap sanitasi. Pada tahun 2050, diperkirakan lebih dari 300 juta orang di dunia akan terpapar banjir berulang sebagai dampak dari kenaikan muka air laut akibat dari perubahan iklim. Banjir tersebut akan berdampak terhadap akses layanan sanitasi. Lokakarya ini bertujuan untuk mengimplementasikan kerangka kerja (framework) yang telah dikembangkan oleh tim pengabdi untuk identifikasi risiko akibat kenaikan muka air laut serta rencana adaptasi yang efektif untuk sektor sanitasi,” kata Dr. Cindy yang juga merupakan Ketua Program Studi Teknik Lingkungan FTUI.

Dalam sambutan pembukanya, Asisten Walikota Kota Banjarmasin, Ir. Doyo Pudjadi mendukung penuh upaya akademisi dan pemerintah kota Banjarmasin untuk dapat mengupayakan aktivitas-aktivitas yang dapat meningkatkan ketahanan iklim. “Semoga dengan adanya kegiatan ini, para perangkat daerah di Kota Banjarmasin dapat memahami bahaya iklim terhadap sanitasi. Peserta juga diharapkan dapat bersungguh-sungguh mengimplementasikan rencana aksi yang telah dibuat pada lokakarya ini sehingga sanitasi kota kita menjadi lebih baik kedepannya.”

Dr. Jeremy Kohlitz dari UTS-ISF menyampaikan paparan tentang “Perubahan iklim, kenaikan permukaan laut, dan sanitasi”. “Beberapa contoh dampak kenaikan permukaan laut terhadap sanitasi adalah masuknya air laut/air banjir ke tanki septik, toilet yang tidak bisa disentor (flush), serta masuknya puing-puing akibat banjir ke dalam tanki septik. Tantangan masyarakat adalah bagaimana membangun ketahanan dalam menghadapi perubahan iklim dan sanitasi. Ketahanan diartikan sebagai kapasitas dari sistem untuk terus berfungsi meskipun terpapar bahaya iklim.”

“Sementara dari sisi masyarakat, adaptasi yang dapat dilakukan dalam menghadapi banjir, yaitu perubahan perilaku, perubahan fisik/lingkungan dan migrasi,” lanjut anggota tim pengmas dari UMB, Fitri Wulandari, S.T., M.Sc.

Lokakarya hari pertama ditutup dengan sesi Focus Group Discussion (FGD) dimana para peserta melakukan identifikasi rantai layanan sanitasi di Kota Banjarmasin dengan menggunakan shit flow diagram (SFD). Peserta kemudian mendiskusikan alur rantai layanan sanitasi di Banjarmasin yang masih belum aman dan juga mengidentifikasi komponen apa saja yang perlu diperhatikan. Peserta lalu memetakan hotspot zona risiko tinggi terhadap sanitasi di Banjarmasin.

FGD hari kedua dibuka dengan paparan dampak perubahan iklim terhadap sistem sanitasi. Dr.Cindy memimpin peserta untuk menganalisis status dari sistem sanitasi yang terkena bencana banjir, dampak dari sistem sanitasi yang terkena banjir terhadap kesehatan, kenyamanan, dan kerugian finansial, serta sebab dan akar masalah dari sistem sanitasi yang terdampak banjir.

Tim kemudian menyampaikan materi terkait dengan beberapa desain teknologi sanitasi dan bagaimana penglolaannya agar teknologi sanitasi dapat tahan terhadap bahaya, terutama bahaya banjir. Peserta kemudian diminta untuk mengevaluasi tingkat ketahanan teknologi sanitasi yang sudah diterapkan di Banjarmasin terhadap perubahan iklim. Dr. Jeremy juga memaparkan 52 opsi adaptasi untuk menghadapi perubahan iklim. Peserta kemudian diminta untuk memilih beberapa opsi adaptasi yang efektif dan sesuai dengan kondisi Kota Banjarmasin. Dari hasil pengerucutan jumlah opsi adaptasi ini, di hari ketiga, Dr.Cindy memimpin peserta untuk mengidentifikasi rencana aksi yang konkrit guna mencapai opsi adaptasi yang telah ditentukan.

Ditemui di kesempatan terpisah, Dekan FTUI, Prof. Dr. Heri Hermansyah, ST., M.Eng., IPU menyampaikan, “Program Studi Teknik Lingkungan FTUI telah menjalin kemitraan dengan universitas mitra baik dari dalam maupun luar negeri yang mendukung agenda Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan akses air minum, sanitasi, dan kebersihan di seluruh negeri. Kemitraan ini mencakup penelitian tentang sanitasi perkotaan yang tahan perubahan iklim dan kualitas air minum. Kedua studi tersebut telah menghasilkan bukti yang jelas untuk advokasi dan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti, yang sangat dihargai oleh Pemerintah Indonesia. Semoga opsi adaptasi yang dihasilkan dari lokakarya ini dapat segera diimplementasikan di kota Banjarmasin dan menjadi percontohan kota-kota lain di Indonesia.”

***

Biro Komunikasi Publik
Fakultas Teknik Universitas Indonesia

X