FacebookTwitterGoogle+PinterestShare

Kelompok Riset Regulasi, Inovasi dan Manajemen Teknologi (KRIM-T) Departemen Teknik Elektro Universitas Indonesia merilis hasil riset terbaru tentang perubahan pola perilaku masyarakat Indonesia dikaitkan dengan penggelaran teknologi komunikasi selular 4G. Hasil lengkap riset tersebut dipublikasikan dalam Jurnal IEEE Access yang terbit di bulan Agustus 2017 dengan judul “What Changes after switching to 4G: Findings from Indonesia market”.  Jurnal IEEE adalah salah satu jurnal utama tempat publikasi ilmiah di bidang teknologi informasi dan komunikasi interdisciplin, dengan faktor dampak (impact factor) = 3,24.  Tim peneliti diketuai oleh Dr. Muhammad Suryanegara, dan beranggotakan mahasiswa dari Program S2 Manajemen Telekomunikasi, Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Hasil lengkap penelitian dapat diunduh secara gratis pada website www.IEEEaccess.ieee.org

Penelitian dilakukan dengan melakukan investigasi pola perilaku pengguna layanan selular 4G, dan dibandingkan terhadap pola perilaku masyarakat saat berlangganan teknologi 3G. Sejak penggelaran komersil pada tahun 2015, teknologi 4G telah mengubah pola perilaku masyarakat Indonesia. Identifikasi perilaku masyarakat ini sangat penting untuk diketahui, sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut untuk strategi lanjutan dalam menyongsong era teknologi kelanjutan 5G yang akan datang.

Data primer diperoleh dengan melakukan investigasi pada masyarakat pengguna 4G di DKI Jakarta pada bulan April-Mei 2017. Penelitian ini memetakan pola perubahan 26 aktifitas online masyarakat saat mereka berpindah dari teknologi 3G ke 4G. Cluster aktifitas pertama terdiri dari 14 aktifitas online masyarakat yang konvensional, yaitu telah ada sejak implementasi teknologi 3G sebelumnya. Cluster kedua terdiri dari 11 aktifitas online yang mengacu pada layanan yang juga melibatkan teknologi lainnya.

Salah satu temuan yang penting untuk disampaikan adalah ::

  • sejak menggunakan teknologi 4G, lebih dari 80% pengguna ponsel di Indonesia menjadi lebih sering chatting menggunakan Messengger-application (seperti WhatsApp)
  • sejak menggunakan teknologi 4G, lebih dari 73% pengguna ponsel di Indonesia menjadi lebih sering menggunakan menggunakan Messenger-application (seperti Whatsapp) untuk melakukan panggilan telepon dan video
  • sejak menggunakan teknologi 4G, lebih dari 51% pengguna ponsel menjadi lebih sering menggunakan ponsel mereka untuk melakukan tethering ke perangkat lainnya, yaitu menjadikan ponsel mereka sebagai hotspot WiFi.
  • sejak menggunakan teknologi 4G, lebih dari 73% pengguna ponsel menjadi lebih sering mengakses media social (Facebook).
  • sejak menggunakan teknologi 4G, 49 % pengguna ponsel menjadi lebih jarang menggunakan SMS.
  • sejak menggunakan teknologi 4G, 52% pengguna ponsel menjadi lebih sering menggunakan kamera ponsel nya untuk mengambil foto dan video.
  • sejak menggunakan teknologi 4G, lebih dari 75 % pengguna ponsel menjadi lebih sering mengakses video online, seperti dari Youtube.

Salah satu indikasi penting dari penelitian ini adalah kehadiran Teknologi 4G telah membuat masyarakat Indonesia lebih aktif ber-WhatsApp dan ber-Facebook. Maka tidaklah mengherankan jika masyarakat semakin meninggalkan layanan konvensional seperti SMS, dan semakin sering menggunakan platform messenger-application untuk berkomunikasi teks dan telepon.

Teknologi 4G sebenarnya menawarkan akses kecepatan data yang jauh lebih tinggi dari teknologi 3G sebelumnya. Dengan demikian, seyogyanya, peningkatan perilaku tersebut dapat diarahkan untuk hasil-hasil yang positif dan produktif bagi peningkatan ekonomi masyarakat Indonesia. Penelitian ini juga menyiratkan pentingnya menciptakan ekosistem layanan di era teknologi 4G dengan menjadikan messenger-Application sebagai salah satu pusat ekosistem. Idealnya, Indonesia harus memiliki sebuah layanan lokal messenger-App yang diintegrasikan  penggunaan nya dengan aplikasi e-commerce lokal sehingga mendukung ekosistem teknologi khas Indonesia.

Penelitian ini dilakukan sebagai bagian dari kegiatan penelitian yang dilakukan pada program S2 Manajemen Telekomunikasi, Fakultas Teknik Universitas Indonesia.  Program tersebut telah berdiri sejak tahun 1997 dengan berorientasi pada perpaduan aspek teknik, regulasi dan manajemen teknologi.  Di tahun 2017, UI menerima 25 orang mahasiswa baru S2 program Manajemen Telekomunikasi, yang memulai kuliah perdananya pada Rabu 30 Agustus 2017. Mahasiswa program S2 Manajemen Telekomunikasi berasal dari beragam latar belakang di bidang teknologi informasi dan komunikasi, terutama karyawan dari operator penyelenggara jaringan, vendor dan Pemerintah selaku pembuat regulasi kebijakan telekomunikasi.

Elaborasi hasil lebih lengkap tentang hasil penelitian ini dapat menghubungi Ketua Tim peneliti: Dr. Muhammad Suryanegara,   Telepon 0812-9518440.