id
id

Inovasi Low Impact Development (LID) Sebagai Solusi Turunkan Debit Banjir

Tiga mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang berasal dari Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, mencatat prestasi pada Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional, 19th Environmental Fair bertema “Healing Our Planet Starts with Usyang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan, Universitas Trisakti. Tim FTUI tersebut menjadi juara 2 berkat tulisan tentang penerapan teknologi Low Impact Development (LID), yang dapat menurunkan debit banjir sebesar 10% di lokasi studi, serta mengurangi dampak perubahan iklim yang dapat terjadi.

Daniel Martua (2017), Athena Hastomo (2018), dan Otniel Cornelius (2017) mempresentasikan solusi tersebut dalam karya ilmiah berjudul “Penerapan Teknologi LID Sebagai Salah Satu Rekaya Lingkungan terhadap Perubahan Iklim”. “Seiring dengan meningkatnya pembangunan di daerah urban Jabodetabek, daerah resapan cenderung semakin berkurang. Hal ini menyebabkan adanya peningkatan limpasan permukaan akibat hujan yang berujung pada meningkatnya debit banjir,” kata Daniel Martua sebagai ketua tim terkait teknologi LID.

Daniel Martua menjelaskan bahwa untuk menanggulangi fenomena tersebut, teknologi LID menjadi salah satu solusi yang dapat diimplementasikan. Low impact development (LID) merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sebuah perencanaan wilayah dan pendekatan engineering untuk menangani limpasan hujan sebagai bagian dari teknologi green infrastructures. “Tujuannya untuk melakukan konservasi dan menggunakan fitur alami untuk menjaga kualitas air, ide ini kami dapatkan dari salah satu mata kuliah yang diampu oleh Prof. Dwita Sutjiningsih dan Dr. Evi Anggraheni,” katanya.

Perubahan iklim merupakan permasalahan yang terus terjadi dan berdampak terhadap perubahan pola hujan dan intensitas hujan yang turun. Siklus hujan berintensitas ekstrem kini memiliki periode yang lebih cepat dan bisa datang hingga dua kali lebih cepat daripada waktu sebelumnya. Intensitas dan frekuensi hujan ekstrem ini berhubungan erat dengan banjir yang terjadi di Jabodetabek sejak 30 tahun terakhir dari tahun 1990-an. Hal ini mengindikasikan bahwa perlu adanya tindakan untuk mengatasi dampak dari perubahan iklim yang ada terutama dari pola curah hujan.

“Kami melakukan analisis pada Daerah Tangkapan Air dari Daerah Aliran Sungai Cipinang yang berada di Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur. Berdasarkan hasil analisis, kami mengusulkan tiga teknologi LID yang dapat diterapkan di lokasi studi yaitu Cistern, Green Roof, dan Rain Barrell yang dapat menurunkan persentase tutupan lahan kedap air dan menurunkan beban limpasan permukaan untuk hujan spektrum rendah hingga sedang. Selain itu, penerapan teknologi ini juga dapat memberikan dampak lebih yaitu menurunkan kadar nitrogen total, fosfor total, dan sedimen yang cukup baik,” ujar Otniel Cornelius, salah seorang anggota tim FTUI.

Lebih lanjut, Athena Hastomo mengatakan bahwa melalui karya ilmiah tersebut, ia dan timnya berusaha memberikan pemahaman terkait dampak perubahan iklim terhadap perubahan kondisi lingkungan terutama terhadap perubahan hujan. Selain itu, tim mahasiwa FTUI tersebut berharap karya ilmiah mereka dapat memberikan pengetahuan kepada pembaca terkait kegunaan serta manfaat dari penerapan teknologi LID, dan memberikan rekomendasi kepada pemangku kepentingan serta kepada masyarakat untuk mengaplikasikan teknologi LID.

Dekan FTUI, Dr. Ir. Hendri D.S. Budiono, M.Eng., turut mengapresiasi solusi yang ditawarkan oleh para mahasiswa. “FTUI sangat berharap inovasi mahasiswa ini dapat menjadi salah satu solusi bagi pihak-pihak terkait dan masyarakat untuk melakukan konservasi lingkungan sebagai salah satu upaya mengatasi perubahan iklim yang terus terjadi yang dapat memberikan dampak negatif terhadap kehidupan masyarakat. Penerapan teknologi LID pada kawasan yang lebih besar juga dapat dilakukan untuk mendapatkan manfaat yang lebih besar juga,” kata Dr. Hendri.

Sekalipun 19th Environmental Fair diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Lingkungan Hidup pada tanggal 5 Juni 2021, namun gagasan yang disampaikan para mahasiswa ini tetap relevan. Lomba karya tulis merupakan salah satu rangkaian 19th Environmental Fair yang diadakan pada 31 Mei—18 Juni 2021 secara daring. Selain lomba karya tulis, ada empat sub acara pada rangkaian acara tersebut diantaranya Pelatihan Karya tulis Ilmiah “Great Millenial Through Writting“; Seminar Online Lingkungan “Climate Change: Global Threat and How to Solve Them” yang menghadirkan pembicara dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Greenpeace, dan lainnya; Aksi Lingkungan “Proving The Future of Global Health Through Climate Action” yang dilaksanakan secara hybrid; dan acara Puncak “Burn The Spirit to be Climate Change Heroes” yang merupakan acara penutup dari rangkaian 19th Environmental Fair.

X