FacebookTwitterGoogle+PinterestShare

Pameran arsitektur Bangka Vernadoc and A Tectonic Exhibition telah ditutup dengan kuliah umum pada Sabtu, 17 November 2018 di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia. Kegiatan kuliah umum dimoderatori oleh M. Nanda Widyarta, B. Arch., M. Arch. Tiga buah judul yang dipresentasikan, yaitu Konsep Arsitektur Vernakular di Muntok-Bangka, Bangka Vernadoc, dan Eksplorasi Tektonika.

Konsep Arsitektur Vernakular di Muntok, Bangka dibawakan oleh Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, ST, M. Sc., PhD, yang juga merupakan kurator pameran. Mengawali presentasinya, istilah ‘vernakular’ dijelaskan sebagai sesuatu yang sifatnya domestik dan asli. ‘Vernakular’ berasal dari bahasa Latin ‘verna’, yang berarti budak yang lahir di rumah tuannya. Di dunia Barat, arsitektur vernakular disoroti sebagai konsep ‘binary opposition‘, seperti tradisional versus modern atau timur versus barat. Padahal, sejatinya konsep arsitektur vernakular mengacu pada produksi kehidupan bangunan itu sendiri yang bersifat dinamis—yang memuat aspek kesementaraan, kealamian, dan perubahan. Selain itu, konsep produksi ruang dalam arsitektur vernakular sangat terkait dengan interaksi sosial budaya pada masyarakatnya. Bagi masyarakat di Kota Muntok arsitektur vernakular tidak hanya berupa bangunan hunian tradisional, melainkan juga berbagai tipologi lainnya yang tidak dirancang oleh arsitek professional—seperti warung kue, struktur gerbang, kedai kopi, jembatan, klenteng, surau, hingga lansekap. Untuk itu, perencanaan dalam upaya konservasi mutlak dilakukan secara komperehensif sehingga citra Kota Muntok sebagai kota pusaka dapat dirasakan secara utuh.

Presentasi kedua dibawakan oleh salah seorang perwakilan veteran Bangka Vernadoc, Iqbal Muhammad. Lulusan Arsitektur UI angkatan 2014 ini menyampaikan proses menggambar rumah panggung Melayu dengan teknik Vernadoc (vernacular documentation). Vernadoc muncul dalam sebuah diskusi oleh CIAV (International Committee for Vernacular Architecture) pada tahun 2004 di Ehima, Jepang. Tahapan metode Vernadoc secara umum meliputi pengukuran obyek dengan teliti—termasuk dimensi dan tekstur; penggambaran; dan pembubuhan tinta. Bangka Vernadoc Camp, sebelumnya telah diselenggarakan pada 4-19 Agustus 2018 di Kota Muntok dengan melibatkan 22 orang peserta dari Universitas Indonesia, Universitas Syiah Kuala, Rajamangala University of Technology Suvarnabhumi (Laos), dan Khon Kaen University (Thailand).

Eksplorasi Tektonika dibawakan oleh perwakilan dari tim riset ‘Teknologi Membangun Rumah Panggung Kayu Melayu di Kota Muntok’, yaitu Elita Nuraeny, S. Ars., M. Ars. dan Intan Findanavy Ridzqo, ST. Dalam menganalisis keterbangunan rumah panggung kayu Melayu, pendekatan yang digunakan adalah tektonika. Secara sederhana, tektonika adalah sebuah seni hubungan (joinings). Empat buah aspek tektonika yang menjadi perhatian dalam analisis yaitu, keruangan, struktur, konstruksi, dan materialitas. Ruang-ruang dalam rumah panggung Melayu disusun horizontal dan vertikal secara lugas dan fungsional. Rumah panggung ini pada zaman dahulu dapat dipindahkan karena struktur dan konstruksinya menggunakan  sistem knock-down (bongkar pasang) dan sambungan kayu (lidah dan pasak). Sementara itu, dalam aspek materialitas, terjadi pergeseran material jenis kayu yang digunakan saat ini karena keterbatasan sumber daya alam.

Dari ketiga presentasi, tanggapan datang dari Ketua Departemen Arsitektur FTUI, Dr. Ing. Dalhar Susanto,”Ternyata dari rumah tradisional, kita bisa melihat adanya poetics of construction yang selama ini tidak kita sadari.” Hal senada juga disampaikan oleh Ibu Rosdiana, yang juga merupakan pemilik dari salah satu rumah yang menjadi obyek penggambaran dan riset,”Kami tidak menyangka rumah kami dapat memberi kontribusi bagi ilmu pengetahuan arsitektur. Saya juga ingin meminta maaf karena kami melakukan pembetonan di sekeliling pagar rumah kami (sehingga nilai keaslian rumah berkurang).” Namun, tentunya hal ini tidak terjadi jika tidak adanya masalah lingkungan, berupa banjir yang dapat melanda kampung-kampung Melayu di Kota Muntok setiap musim penghujan tiba.

Kuliah umum ini merupakan sarana interaktif dua arah antara penyaji pameran—kurator dan seluruh kontributor—dengan masyarakat luas. Kuliah ini dihadiri oleh para peserta dari kalangan mahasiswa dan masyarakat umum. Seluruh rangakaian riset, Bangka Vernadoc Camp, hingga pameran arsitektural ini diharapkan dapat menjadi sarana pengenalan dan pembelajaran arsitektur tradisional di Indonesia kepada khalayak ramai. (Atikah Tyas dan Intan Findanavy)