Solar Thermal Cooling System (STCS) yang merupakan sistem pendinginan dengan tenaga panas baik sinar matahari, gas, dsb telah memasuki tahun ke 4. Sejak digagas pada sekitar 2012 oleh Prof. Muhammad Idrus Alhamiddan rekan yang lain dari Departemen Teknik Mesin FTUI, perjalanan STCS dimulai di tahun 1 dengan perhitungan feasibilitas dan dilanjutkan di tahun ke 2 dengan pembuatan Detail Engineering Desain, di tahun ke 3 dengan pembangunan dan instalasi sistem serta di tahun ke 4 ini dilakukan analisa data terhadap pengoperasian STCS. Hadir dalam kunjungan analisa data STCS delegasi dari Jepang yaitu Hajime YABASE dari Waseda University, Koichi YAMAMURA dari ENET n, dan Mituo FURUYA dari TBBC.

STCS merupakan penelitian kerjasama dari berbagai pihak diantaranya hibah dari Kementrian Lingkungan Hidup Jepang yang disupport oleh Kementrian Lingkungan Hidup RI, BPPT, Kawasaki Thermal Engineering,Waseda University, DRPM, RCCUI dan Lab Teknik Pendingin dan Tata Udara FTUI. Dalam pembangunannya peralatannya oleh Gutner Indonesia, Aicool, Citramasjaya Teknikmandiri, Citra Galvanaizing Industri. Sedang untuk penggunaan Gas-nya dibantu gratis selama dua tahun oleh Bayu Buana Gemilang dan Citra Nusantara Gemilang.

Benefit yang didapatkan dari STCS adalah reduksi CO2, pengurangan polusi udara dan penghematan energi listrikpada pendingin udara. Sebagai gambaran sistem yang ada di Gedung Manufacturing Research Center di FTUI, yang menggunakan yang berkapasitas 281 kW, hanya menggunakan tenaga listrik sebesar 20 kW dan gas ketika energi matahari berkurang, namun sistem pendingin udara yang menggunakan kompresor konvensional membutuhkan daya listrik sebesar 70 kW. Belum lagu emisi CO2 yang dihemat lebih dari 40 Ton pertahun.

Hasil analisa data yang didapatkan menunjukkan bahwa penggunaan STCS mengurangi konsumsi listrik dan sesuai untuk diterapkan di Indonesia dimana terdapat sinar matahari yang melimpah. (Humas FT)

FacebookTwitter
X