FacebookTwitterGoogle+PinterestShare

Kamis, 5 April 2018, mahasiswa FTUI kembali memenangkan kompetisi 10th Engineering Festival and Compeition (EFICn) UPH. Setelah dua tahun lalu mendapatkan juara 2 dan 3, tahun ini tim dari Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia yang terdiri dari tiga orang mahasiswa bernama Arie Chandra (Arie), Naufal Allaam Aji (Naufal), dan Resha Rafizqi Bramasta (Bram) berhasil mendapatkan prestasi yang memuaskan, yaitu Juara 1 mengalahkan kelima finalis lainnya, yaitu ITB, UGM, UBAYA, dan UB.

Kemenangan ini bukanlah kemenangan yang terjadi begitu saja, Naufal menjelaskan bahwa berbagai persiapan dilakukan, mulai dari belajar bersama, pembagian tugas yang dilakukan berdasarkan pemahaman masing-masing laboratorium – Naufal dan Bram merupakan asisten lab dari Statistic and Quality Engineering, sedangkan Arie merupakan asisten lab dari Systems Engineering Modelling and Simulation– serta pembagian mata kuliah dasar Teknik seperti Kalkulus, Fisika Dasar, Menggambar Teknik, serta Material Teknik. Bram menjelaskan bahwa sharing pengalaman senior memegang peranan penting dalam prestasi yang didapatkan, karena dengan mengetahui pengalaman-pengalaman dan proyeksi materi yang akan keluar, akan membuat tim lebih siap dalam menghadap berbagai tahap di kompetisi ini.

Selain persiapan intensif yang dilakukan, anggota tim menjelaskan bahwa awalnya mereka takut untuk mengikuti lomba ini karena biaya yang cukup tinggi di awal kompetisi dan waktu perlombaan yang dekat dengan Ujian Tengah Semester (UTS). Namun, mereka tak patah arang, mereka mencoba menyelesaikan seluruh tugas akademis di awal waktu sehingga mendekati perlombaan, mereka dapat benar-benar fokus dengan kompetisi ini. Anggota tim juga memiliki motivasi terpendam untuk memenangkan perlombaan ini setelah sebelumnya mengalami beberapa kegagalan di lomba serupa, seperti ISEEC UI dan INCHALL ITS. “Kita bukan orang yang sekali lomba langsung juara dan kita sering banget gagal di beberapa lomba. Tapi itu nggak membuat kita berhenti mencoba. Dan kita yakin usaha nggak bakal mengkhianati hasil, jadi jangan takut untuk mencoba dan jangan takut untuk kalah,” pesan Naufal kepada tim TEKNIKA.

EFICn UPH 2018 kali ini mengusung tema “Ensuring Quality in Consumer Goods” dan terdiri dari tiga stage. Stage pertama adalah tahap penyisihan dimana peserta diminta untuk mengerjakan soal pilihan ganda dan esai. Kemudian di stage kedua yang bertajuk Industrial Exploration, peserta diminta untuk mengerjakan beberapa mata kuliah Teknik Industri serta cerdas cermat dalam beberapa pos. Di stage ketiga, peserta ditantang untuk mencoba mencari solusi terbaik dari study case sebuah perusahaan penghasil oil dan wax. “Jadi kita cuma dikasih waktu dari jam 4 sore sampe setengah 2 pagi, tapi udah harus jadi laporan dan presentasi. PPT kita baru bikin di menit-menit terakhir, terus laptop ngehang, internet mati. Meskipun kita kira kok banyak cobaannya, tapi ternyata selesai juga, hehe,” ujar Arie. Dalam penyelesaian masalahnya, tim UI mencoba untuk melakukan pemecahan masalah yang berbasis pada data dan penarikan masalah serta solusi yang relevan. Menurut mereka, perusahaan yang menjadi studi kasus adalah growing company sehingga mereka fokus pada solusi yang sederhana dan aplikatif. Salah satunya adalah pembuatan Tata Letak Pabrik dan pemisahan divisi operasional dan K3 untuk meningkatkan produktivitas kerja perusahaan tersebut.

“TI memang punya kelebihan untuk business case, seperti membuat alur. Jadi kita cukup beruntung kuliah di TIUI. Competitive advantage kita disitu, kita nggak pernah mengandalkan untuk mengganti SDM, tapi mementingkan gimana SDM itu dapat improve bukan karena dimotivasi dari segi insentif finansial saja, namun karena iklim kerja yang diperbaiki menjadi lebih nyaman,”, jelas Bram, “dan tentu produktivitas akan naik karena rasa aman pekerja pada Teori Mashlow itu sangat penting,” tambah Naufal.

Kemenangan tim UI dalam kompetisi ini juga tidak terlepas dari doa-doa orang terdekat. Tim UI menjelaskan bahwa di setiap sesi sebelum memulai, mereka selalu berdoa bersama. Bram menjelaskan bahwa doa itu sangat penting, seperti ketika di stage ketiga mereka merasa bahwa kurang beruntung, namun ternyata hasil berkata lain dan semua itu berkat doa. “Semua berada di tangan Tuhan,” tutup Bram.

Naufal Farras Fajar – TEKNIKA FTUI 2018