FacebookTwitterGoogle+PinterestShare

Membangun kembali prasarana pasca bencana sangat penting sebagai upaya pemulihan kehidupan sehari-hari masyarakat. Bagi anak-anak yang terkena dampak bencana, membangun kembali sekolah sangat dibutuhkan agar mereka tidak kehilangan kesempatan belajar.
Sekolah Indonesia adalah sebuah inisiatif untuk mewujudkan sekolah tanggap bencana. Pembangunan Sekolah Indonesia untuk Lombok merupakan program dari Ikatan Alumni Arsitektur FTUI (ILUNIArsUI) dan Ikatan Alumni FTUI (ILUNI FTUI), didukung oleh Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) dan Fusi Foundation. Pada tahap awal, pembangunan berlokasi di Desa Kerandangan, BatuLayar, Lombok Barat. Sekolah yang dibangun terdiri dari enam ruang kelas, satu perpustakaan dan satu ruang guru, yang mampu menampung sekitar 130 siswa TK/RA dan SD/MI.
Rancangan Sekolah Indonesia dikerjakan oleh Kelompok Keilmuan Perancangan dari Departemen Arsitektur FTUI yang dipimpin oleh Prof. Yandi Andri Yatmo, PhD dan juga melibatkan mahasiswa. Sekolah Indonesia dirancang dengan berbasis komponen yang dapat dikonstruksi secara mudah dan cepat. Sekolah Indonesia terdiri dari unit-unit yang secara fleksibel dapat dikomposisikan secara “plug and play” dan dapat berkembang sesuai kebutuhan dan situasi di setiap lokasi. Sehingga rancangan ini diharapkan dapat bersifat cepat tanggap terhadap berbagai kondisi yang membutuhkan di mana pun di seluruh Indonesia. Sekolah Indonesia berupaya mewujudkan kesempatan belajar yang terbaik bagi anak Indonesia sehingga insiatif ini tidaklah semata-mata sekedar membangun fisik sekolah, namun membangun ekosistem belajar yang menyenangkan untuk anak Indonesia.
Peletakan batu pertama telah dilaksanakan pada hari Sabtu, 6 Oktober 2018 oleh Dekan FTUI Dr. Ir. Hendri DS Budiono, M.Eng dan Ketua Umum ILUNI FTUI Cindar Hari Prabowo. Dalam kesempatan tersebut hadir pula Bapak Muzaki Ketua Yayasan Riyadlul Wardiyah beserta para guru dan siswa sekolah yang akan dibangun.
Pembangunan Sekolah Indonesia di Desa Kerandangan direncanakan memakan waktu satu bulan sejak peletakan batu pertama. Pelaksanaan dan pengawasan pembangunan dilakukan oleh Panitia Sekolah Indonesia untuk Lombok dengan penanggung jawab konstruksi Ir. Budi Wasono yang juga adalah Ketua ILUNI Arsitektur FTUI.
Sekolah Indonesia membuka kesempatan bagi berbagai pihak untuk memberikan kontribusi dalam berbagai bentuk. Bantuan diterima dalam bentuk dana tunai, komponen material untuk bangunan dan furnitur, serta bantuan sarana pembelajaran yang mendukung. Hingga saat ini masih dibutuhkan sejumlah dana untuk menuntaskan pembangunan sekolah ini. Diharapkan program Sekolah Indonesia dapat dilaksanakan secara lebih luas untuk mewujudkan kesempatan belajar bagi anak-anak, khususnya yang terkena dampak bencana.
Semoga inisiatif pembangunan Sekolah Indonesia Tanggap Bencana ini menjadi inspirasi bagi semua pihak untuk ambil bagian dalam semangat solidaritas kesetiakawanan atas berbagai Bencana Nasional dan ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

ANTARA: Naungan sementara berbasis keberlanjutan
Kondisi bencana seperti gempa yang dialami Lombok, dapat membuat rontoknya bangunan hunian, pemerintahan ataupun prasarana publik. Hal ini membuat lumpuh aktifitas masyarakat, sehingga tidak mampu melakukan aktifitas secara normal. Ketidakpercayaan terhadap bangunan yang seharusnya melindungi, membuat masyarakat memilih untuk berdiam diri bersama di area yang mereka percaya aman.
Begitu besar empati yang hadir terhadap bencana ini membuat berbagai disiplin ilmu berusaha untuk melakukan sesuatu atas kejadian ini. Dan ILUNI Arsitektur UI pun mengambil bagian, dengan membuat tim khusus yang beranggotakan praktisi arsitektur.
Shelter atau naungan adalah salah satu kosakata dalam arsitektur yang bisa menjawab kondisi saat ini. Membangun kembali kepercayaan masyarakat korban gempa terhadap arsitektur bukanlah sesuatu yang mudah. Sehingga diperlukan sebuah riset khusus dengan hadir langsung di lokasi bencana. Bentuk naungan dimaksud adalah ANTARA.
ANTARA, adalah naungan sementara berupa hunian dengan modul rangka 2.5 x 4.95 m berbahan material besi 5x5cm tebal 1.8mm dengan join plat besi 5mm, dinding multipleks 15mm dengan modul bidang sebagai pintu, jendela ataupun dinding itu sendiri, dan atap plat metal tekuk 0.3mm dengan reng besi 4x4cm tebal 1.4mm. Yang menjadi focus utama dari ANTARA adalah memberikan
material kuat yang tahan gempa untuk menumbuh kembangkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap arsitektur sebagai naungan mereka berlindung.
Tim ANTARA melakukan proses desain awal, survey lokasi, penyempurnaan desain pasca survey, dan tantangan budgeting untuk meramu sebuah naungan sementara dengan system modul struktur rangka yang bisa didirikan dimana saja dengan basis keberlanjutan. Satu hal yang perlu kita pahami bahwa bencana adalah sebuah kondisi temporer yang harus dilalui dan akan terlewati ketika masa tersebut telah hilang, sehingga pemikiran pasca bencana juga mengambil peran dalam pemikiran desain arsitektur tim ANTARA. Pemilihan material yang tahan lama menjadi pertimbangan utama, kekuatan material dan system konstruksi tahan gempa menjadi keharusan, dan kenyamanan termal adalah tuntutan keidealan sebuah naungan, dan ketika naungan ini sudah tidak diperlukan oleh korban bencana, dia dapat dialihkan menjadi fungsi yang lain.
Tim ANTARA terdiri dari Farizzky Astrawinata (Desain dan Riset), Ardhes Perdana (Desain dan Riset), Indri Juwono (Pendanaan dan Pembangunan), Abi Sutanrai (Hubungan Media), Nicolaus Padeng (Arsitektur Lapangan), M. Razaq Raudhi (Arsitektur Lapangan), Diyas Wulandari (Ahli Struktur) , Satrio Anindito (ILUNIArsUI), Johan Nurbarok (ILUNIArsUI), Murni Khuarizmi (ILUNIArsUI), Tomy Suryatama (ILUNI UI).
Dalam proses perjalanan desain, tim ANTARA mendapat dukungan dari ILUNI UI untuk merealisasikannya. Dan seluruh proses desain, sosialisasi kepada warga penerima, mock-up dan perakitan bersama dengan warga dapat berjalan dengan lancar. Untuk saat ini sudah berdiri 20 unit yang berlokasi di Sembalun Bumbung, Sembalun, Lombok Timur. Material yang kuat dan kehadirannya yang dapat bersanding diantara rumah penduduk menjadi penerimaan terbesar masyarakat Sembalun terhadap ANTARA. Dan dalam waktu dekat akan dilakukan perakitan 30 unit tunggal berupa hunian, 2 unit tunggal berupa ruang operasi di puskesmas, dan 2 unit MCK.

Link Berita:
https://properti.kompas.com/read/2018/10/17/193000521/pulihkan-korban-gempalombok-alumni-ui-bangun-sekolah-indonesia
https://m.antaranews.com/berita/759378/iluni-ui-bangun-sekolah-tanggap-bencana-dilombok
http://m.metrotvnews.com/news/peristiwa/0kpzX10N-alumni-ui-bangun-sekolah-tahangempa-di-lombok
https://medcom.id/s/xkE4me3b?utm_source=share_mobile&utm_medium=share_whatsapp&utm_campaign=share
https://lifestyle.okezone.com/read/2018/10/17/196/1965409/pembangunan-sekolah-dilokasi-bencana-harus-disesuaikan-dengan-kondisi-psikologis-masyarakat
http://www.netralnews.com/news/pendidikan/read/161894/ikatan-alumni-ftui-bangunsekolah-tahan-gempa-di-lombok
https://www.idntimes.com/news/indonesia/indianamalia/pasca-gempa-lombok-iluni-ftuibangun-sekolah-tanggap-bencana
http://www.netralnews.com//news/nusantara/read/161906/alumni-arsitektur-ui-bangunhunian-sementara-korban-gempa