FacebookTwitterGoogle+PinterestShare

Prof. Dwita Sutjiningsih (kiri) dan Prof. Fitri Yuli Zulkifli

Universitas Indonesia (UI) kembali mengukuhkan dua guru besar tetap dari Fakultas Teknik (FT). Mereka adalah Prof. Dr.-Ing Ir. Dwita Sutjiningsih, Dipl.HE yang merupakan Guru Besar Tetap UI bidang ilmu Hidrologi – Teknik Sipil dan Prof. Dr. Ir. Fitri Yuli Zulkifli, ST, MSc yang merupakan Guru Besar Tetap UI bidang ilmu Microwave Antenna Engineering – Teknik Elektro. Para profesor tersebut dikukuhkan pada Rabu (29/11) di Balai Sidang UI, kampus Depok yang dipimpin oleh Rektor UI Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met. Pengukuhan dua Guru Besar ini menambah jumlah Profesor Tetap di lingkungan UI menjadi sebanyak 274 orang.

Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Dwita memaparkan pidato pengukuhannya berjudul “Ekohidrologi dalam Bingkai Masyarakat Urban : Peran Ahli sebagai Pemangku Kepentingan.” Dalam pidatonya, Prof. Dwita  menyebutkan hampir 80% ekosfir telah dikondisikan, dikonversi, dan dikonsumsi manusia. Maka diperlukan rencana tindak untuk meningkatkan kesadaran masyarakat melalui pergeseran paradigma dan kebijakan, melalui inovasi dan pendidikan, melalui riset integratif interdisiplin sehingga dapat tercipta kebijakan untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi. Sejumlah upaya dapat dilakukan melalui penerapan prinsip-prinsip desain ekologi yang inovatif yang digabungkan dengan rekayasa ekologis, restorasi ekologis dan ekohidrologi; serta melalui peninjauan-ulang dan pengembangan pendidikan dan nilai-nilai (sosial-ekonomi-budaya), pembelajaran sepanjang hayat, serta landasan etika dan apresiasi budaya yang dapat menciptakan latar belakang untuk integrasi antara masyarakat dengan alam yang lebih baik.

Solusi tersebut memerlukan kerjasama tim transdisipliner yang merupakan metamorfosa dari tim multidisipliner/interdisipliner. Model pendidikan yang kelak dapat menghasilkan para ahli yang mampu dan bersedia bekerja dalam tim transdisipliner adalah model pendidikan paralel yang membuka peluang ruang dialog antar bidang ilmu, dimana mahasiswa selain dipertajam spesialisasinya, sebagaimana model pendidikan piramid, juga dibekali dengan pemahaman tentang proses-proses lingkungan yang kompleks. Model pendidikan paralel diperlukan untuk meningkatkan kesadaran tentang berbagai kemungkinan skenario yang mungkin dan realistik untuk menyelaraskan kebutuhan masyarakat dengan potensi ekosistemnya.

Sedangkan Prof. Fitri menyampaikan pidato pengukuhan bertajuk “Antena sebagai Sensor pada Aplikasi Teknologi Modern untuk Peningkatan Kualitas Hidup.” Antena untuk berbagai teknologi modern mengalami perkembangan yang sangat pesat, yang diawali hanya dengan antena kawat sederhana (dipole), kemudian menjadi berbagai jenis antena, antena susun kompleks dengan berbagai dimensi dan kini menuju nano antena yang bekerja di frekuensi Terahertz. Penggunaan antena yang awal digunakan untuk komunikasi radio, kemudian TV dan terus berkembang ke telekomunikasi nirkabel yang kini menuju 5 Generation (5G), kini sangat dirasakan menjadi kebutuhan hidup manusia.

Kini antena berkembang terus, dapat digunakan sebagai sensor dalam berbagai aplikasi seperti pada sistem telekomunikasi 4G yang menggunakan smart antenna dengan beamforming untuk mendeteksi dan mengarahkan signal ke pelanggan sehingga lebih efisien dengan jarak jangkau layanan yang lebih luas, pada sistem radar untuk mendeteksi kapal laut pada VesselTraffic Surveillance (VTS), sistem pendeteksian kesehatan manusia dengan microwave imaging dan sistem spektroskopi Terahertz yang dapat mendeteksi jenis bahan yang terkandung dalam makanan. Keempat contoh sistem ini digunakan untuk peningkatan kualitas hidup. (Humas UI)