enid
enid

Kolaborasi FTUI dan University of Sydney Bahas Tantangan Transisi Energi Melalui Forum ‘Advancing Critical Materials and Minerals’

Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) melalui Institute for Energy Transition – UPIK dan Net Zero Initiative (NZI), bekerja sama dengan The University of Sydney, menyelenggarakan Public Lecture bertajuk “Advancing Critical Materials and Minerals” pada Rabu (03/12), di Smart Meeting Room Gedung Dekanat FTUI. Acara ini menghadirkan narasumber utama Prof. Marjorie Valix dari The University of Sydney, yang membedah tantangan global dalam mengamankan pasokan mineral kritis demi masa depan rendah karbon. 

Kepala Unit Penelitian Interdisiplin Keteknikan (UPIK), Prof. Dr. Ir. Widodo Wahyu Purwanto, DEA, dalam sambutannya menekankan urgensi kolaborasi akademik internasional dalam menghadapi tantangan dekade ini. “Komitmen global untuk transisi energi bersih kini lebih kuat dari sebelumnya, namun teknologi rendah karbon sangat bergantung pada ketersediaan mineral kritis. Mengamankan rantai pasok yang andal dan berkelanjutan adalah tantangan nyata. Kuliah ini bukan sekadar forum belajar, melainkan jembatan untuk memperkuat kemitraan riset antara Universitas Indonesia dan The University of Sydney,” ungkapnya. 

Prof. Marjorie Valix memaparkan perkembangan terbaru terkait rantai nilai material dan mineral kritis yang menjadi fondasi teknologi energi bersih. Ia menyoroti meningkatnya kebutuhan global terhadap Rare Earth Elements (REE) untuk mendukung produksi kendaraan listrik, turbin angin, perangkat digital, dan berbagai komponen energi rendah karbon. “Keandalan pasokan material kritis akan menentukan kecepatan dan keberhasilan transisi energi. Karena itu, inovasi dalam pemrosesan mineral harus menekankan keberlanjutan dan efisiensi,” jelas Prof. Valix. 

Dalam paparannya, Prof. Valix memperkenalkan pendekatan sustainable bioprocessing of REE, yaitu pemanfaatan mikroorganisme untuk mengekstraksi logam tanah jarang dari mineral primer maupun limbah tambang (mine tailing). Teknologi ini dinilai mampu mengurangi jejak lingkungan dibandingkan metode ekstraksi konvensional sekaligus membuka peluang pemanfaatan kembali tailing sebagai sumber sekunder mineral kritis. Ia menambahkan, “Bioprocessing memungkinkan kita mengekstraksi REE dengan dampak lingkungan minimal, bahkan dari material berkadar rendah seperti tailing. Pendekatan ini strategis untuk memastikan keberlanjutan rantai pasok mineral energi.” 

Dekan FTUI, Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, S.T., M.Sc., Ph.D., dalam kesempatan terpisah menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari visi FTUI dalam memberikan dampak global melalui riset material. “Kehadiran Prof. Marjorie Valix memperkaya perspektif akademis FTUI dalam pengembangan material berkelanjutan. Sinergi ini memungkinkan peneliti kami terlibat dalam solusi rantai pasok mineral kritis yang ramah lingkungan, yang menjadi pilar keberhasilan dalam mendukung Net Zero global,” ujar Prof. Kemas. 

*** 

Kantor Komunikasi Publik 

Fakultas Teknik Universitas Indonesia 

X