Fakultas Teknik Universitas Indonesia menjadi tuan rumah Sarasehan dan Forum Group Discussion Persatuan Insinyur Indonesia dengan tema “Menuju Reindustrialisasi dan Industri Berkelanjutan Indonesia” yang digelar di Auditorium Gedung IDE FTUI (16/11). Kegiatan ini menghadirkan Ketua Umum PII, Dr.-Ing. Ir. Ilham Akbar Habibie, MBA., IPU., ASEAN Eng., yang menekankan perlunya langkah reindustrialisasi untuk memulihkan performa industri nasional.
Dalam paparannya, Ilham Habibie menyampaikan bahwa hilirisasi sebagai strategi peningkatan nilai tambah belum cukup menjawab tantangan struktural industri. Ia menilai kebijakan tersebut belum menyasar sektor industri yang kuat dan belum mampu menyerap tenaga kerja secara optimal.
“Hilirisasi hanya satu bagian dari proses panjang industrialisasi. Indonesia membutuhkan reindustrialisasi yang mampu mengembalikan dinamika industri pada jalurnya dan mendorong terciptanya lapangan kerja baru,” ujar Ilham Habibie. Ia menegaskan bahwa reindustrialisasi bukan kembali ke pola lama yang identik dengan pencemaran dan eksploitasi, tetapi membangun industri berkelanjutan yang bersifat regeneratif, sirkular, dan berpusat pada manusia.
Sarasehan ini turut dihadiri berbagai pemimpin organisasi profesi dan akademisi, di antaranya Wakil Rektor UI Prof. Ir. Mahmud Sudibandriyo, MSc., Ph.D., Wakil Ketua Umum PII Prof. Dr. Ir. Agus Taufik Mulyono, MT., IPU., ASEAN Eng., Sekjen PII Dr. Ir. Teguh Haryono, MBA., IPU., ACPE., ASEAN Eng., APEC Eng., Direktur Eksekutif PII Ir. Santhi H. Serad, M.Sc., IPU., ASEAN Eng., serta Ir. Gilarsi W. Setijono selaku Asisten Ketua Umum Bidang Reindustrialisasi.
Ilham Habibie memaparkan bahwa reindustrialisasi harus memastikan kemampuan industri nasional untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri sekaligus meningkatkan daya serap tenaga kerja. Ia menyoroti bahwa Indonesia saat ini mengalami fase deindustrialisasi dini, ditandai dengan penurunan kontribusi sektor industri terhadap PDB.
“Indonesia pernah mencapai kontribusi industri lebih dari 20 persen. Pada triwulan II 2025, angkanya turun menjadi 17 persen. Penurunan ini terjadi sebelum Indonesia mencapai puncak pertumbuhan industrinya. Kondisi ini menunjukkan gejala deindustrialisasi yang terlalu cepat,” jelasnya.
Ia membandingkan kondisi Indonesia dengan negara seperti Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat yang berawal sebagai negara agraris dalam membantu pertumbuhan ekonomi negaranya. Lalu, setelah berkembang, negara tersebut melakukan deindustrialisasi karena pertumbuhan ekonomi negaranya telah dipindahkan melalui sektor lain seperti jasa. “Di Indonesia, sektor jasa kita masih terlalu kecil yang tidak memberikan kontribusi sebesar industri,” tambahnya.
Dekan FTUI, Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, S.T., M.Sc., Ph.D., menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan forum ini. Menurutnya, perguruan tinggi dan organisasi profesi berperan penting dalam memperkuat arah pembangunan industri nasional. “Diskusi seperti ini memberi ruang bagi akademisi dan praktisi untuk merumuskan arah baru pembangunan industri Indonesia. Reindustrialisasi membutuhkan fondasi riset yang kuat, kebijakan yang tepat, dan tenaga insinyur yang kompeten. FTUI berkomitmen mendukung upaya ini melalui pendidikan teknik dan riset yang relevan dengan kebutuhan nasional,” ujar Prof. Kemas.
Kantor Komunikasi Publik
Fakultas Teknik Universitas Indonesia

