Mhd Indra Iskandar resmi menyandang gelar Doktor Teknik dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam sidang terbuka yang diselenggarakan pada Jumat (26/6) di Smart Class Room, Gedung GK 304, Departemen Teknik Elektro FTUI.
Dalam disertasinya yang berjudul “Pengembangan Algoritma Handover dan Routing Physarum-Inspired Berbasis Adaptive Hysteresis Margin pada Jaringan Satelit LEO”, Indra menyoroti persoalan stabilitas koneksi pada konstelasi satelit orbit rendah atau Low Earth Orbit (LEO), jenis jaringan satelit yang belakangan banyak dipakai untuk menghadirkan akses internet berkecepatan tinggi hingga ke wilayah yang selama ini sulit dijangkau kabel serat optik.
“Satelit LEO unggul dari sisi latensi karena sinyal merambat lebih cepat melalui ruang hampa dibandingkan melalui kaca serat optik, tetapi ketinggian orbitnya yang rendah membuat satelit bergerak sangat cepat, sekitar 7,6 kilometer per detik, sehingga satu satelit hanya mampu “melayani” sebuah stasiun bumi selama beberapa menit sebelum posisinya bergeser terlalu jauh,” papar Mhd Indra dalam presentasinya.
Kondisi ini memaksa sistem melakukan perpindahan sambungan atau handover ke satelit lain secara terus-menerus. Masalahnya, pendekatan konvensional umumnya hanya mengandalkan kekuatan sinyal sesaat sebagai dasar keputusan, sehingga koneksi mudah berpindah bolak-balik meski peningkatan kualitasnya tidak signifikan, kondisi yang dikenal sebagai efek ping-pong handover. Pada saat bersamaan, algoritma perutean data yang hanya mengejar satelit tetangga terdekat cenderung membentuk lintasan berputar-putar di satu area dan gagal bergerak lurus menuju tujuan akhir, anomali yang disebut geodesic micro-hopping. Kedua persoalan inilah yang membuat koneksi internet satelit LEO rawan putus-nyambung dan lambat.
Untuk menjawabnya, Indra membangun kerangka kerja yang mengintegrasikan tiga mekanisme. Pada tahap pemilihan satelit akses, ia memadukan metode Hybrid AHP-Entropy TOPSIS dengan mekanisme Adaptive Hysteresis Margin. Setiap satelit kandidat dinilai berdasarkan tiga kriteria sekaligus, yaitu kesesuaian arah menuju stasiun tujuan, tren perubahan sudut elevasinya, dan kekuatan sinyal, sebelum diberi peringkat. Perpindahan koneksi baru dieksekusi apabila satelit kandidat menawarkan keunggulan yang benar-benar melampaui ambang toleransi tertentu, mirip seorang pengemudi yang tidak asal berpindah jalur hanya karena celah di sebelahnya tampak sedikit lebih lapang.
Pada tahap perutean data antarsatelit, Indra memodifikasi algoritma yang terinspirasi dari Physarum polycephalum, organisme eukariotik bersel tunggal sejenis slime mold atau jamur lendir yang mampu membentuk jaringan pembuluh paling efisien menuju sumber makanan meski tidak memiliki otak maupun sistem saraf pusat. Sejumlah penelitian bahkan mencatat bahwa pola jaringan yang terbentuk oleh organisme ini menyerupai peta jaringan kereta api Tokyo yang dirancang manusia selama bertahun-tahun. Prinsip itulah yang diadaptasi Indra, dengan tambahan vektor arah geodesik yang mengikuti lintasan great circle, yaitu busur terpendek antara dua titik di permukaan bumi, sehingga setiap satelit memiliki semacam kompas yang terus mengarahkan aliran data mendekati stasiun tujuan, alih-alih menyebar tanpa arah seperti pada model Physarum konvensional.
Sebagai lapisan ketiga, Indra merancang protokol stateful handshaking berbasis pertukaran sinyal request-to-send dan clear-to-send. Sebelum data benar-benar dikirim, satelit pengirim lebih dulu memastikan kesiapan satelit tujuan berikutnya, termasuk kapasitas penyimpanan sementaranya. Apabila tidak ada balasan dalam waktu yang ditentukan, data yang sempat ditahan di memori sementara langsung dialihkan ke kandidat terbaik berikutnya tanpa perlu dihitung ulang dari awal, sehingga risiko paket data hilang di tengah jalan dapat ditekan.
Kerangka kerja tersebut diuji menggunakan data orbit satelit aktual dari CelesTrak pada simulasi konstelasi setara Starlink Shell-1 berisi 1.584 satelit, dengan skenario pengiriman data dari Jakarta menuju London. “Hasil pengujian menunjukkan pendekatan yang diusulkan mampu menekan frekuensi ping-pong handover hingga 87,1 persen dan menekan rata-rata waktu tunda pengiriman data menjadi 59,96 milidetik, atau 14,89 persen lebih rendah dibandingkan algoritma Dijkstra dan 26,73 persen lebih rendah dibandingkan Ant Colony Optimization, dengan rasio paket data yang hilang tetap terjaga rendah di angka 1,32 persen,” ujar Indra. Riset ini telah dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi IEEE Access (Scopus Q1) dan meraih penghargaan Best Paper pada konferensi internasional ISITIA 2025 di Surabaya.
“Riset yang dilakukan Dr. Indra menjawab tantangan nyata di balik pesatnya pengembangan jaringan satelit orbit rendah untuk konektivitas global, termasuk di Indonesia. Pendekatan yang memadukan kecerdasan alami organisme sederhana dengan kebutuhan rekayasa jaringan modern ini memperlihatkan bagaimana riset dasar mampu melahirkan solusi aplikatif bagi tantangan infrastruktur digital masa depan. Kami bangga capaian ini turut memperkuat reputasi keilmuan Departemen Teknik Elektro FTUI,” ujar Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, S.T., M.Sc., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Indra lulus dengan predikat cum laude dan tercatat sebagai Doktor ke-202 dari Departemen Teknik Elektro serta Doktor ke-677 yang dihasilkan oleh FTUI.
Sidang terbuka promosi doktor Indra dipimpin oleh Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, S.T., M.Sc., Ph.D. selaku Ketua Sidang, dengan Promotor Prof. Dr. Ir. Muhamad Asvial, M.Eng., dan Ko-Promotor Ajib Setyo Arifin, S.T., M.T., Ph.D. Bertindak sebagai dewan penguji adalah Prof. Dr. Ir. Dadang Gunawan, M.Eng., Prof. Dr. Muhammad Suryanegara, S.T., M.Sc., IPU., Dr. Ir. Catur Apriono, S.T., M.T., Ph.D., dan Naufan Raharya, S.T., M.T., Ph.D., serta Penguji Eksternal Prof. Dr. Ir. Setiyo Budiyanto, S.T., M.T., IPU., Asean Eng., APEC Eng., ACPE., SMIEEE. dari Universitas Mercu Buana, Jakarta.
***
Kantor Komunikasi Publik
Fakultas Teknik Universitas Indonesia






