Pada Selasa (25/5) lalu, Departemen Teknik Industri Fakultas Teknik Univesitas Indonesia (FTUI) kembali menyelenggarakan acara tahunan, The 4th Asia Pacific Conference on Research in Industrial and Systems Engineering (APCORISE) 2021. Dalam acara ini, para peneliti di bidang teknik industri mengirimkan hasil penelitian berbentuk jurnal dan akan diterbitkan pada jurnal internasional berindeks Scopus. Sebanyak 123 naskah diterima oleh panitia APCORISE 2021 dan setelah melalui tahap review, terpilihlah 105 naskah yang akan dipublikasikan.

Selain publikasi karya ilmiah, APCORISE 2021 juga menyelenggarakan konferensi Internasional. Acara ini dihadiri oleh dua pembicara utama, yaitu Prof. Junichi Iijima, Ph. D. dari Tokyo University of Science, dan Prof. Dr. Ir. Alexander Verbraeck dari Delft University of Technology, Belanda.

Konferensi dibuka oleh sambutan dari Dr. Rer. Pol. Romadhoni Ardi, S.T., M.T sebagai Ketua Penyelenggara APCORISE 2021. Kemudian, dilanjutkan oleh Dr. –Ing. Amalia Suzianti sebagai Kepala Departemen Teknik Industri Universitas Indonesia. Lalu, sambutan terakhir diberikan oleh Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Dr. Ir. Hendri D.S. Budiono M.Eng.

“Pada tahun 2018, APCORISE berkomitmen menjadi wadah untuk para peneliti, engineer, dan kalangan profesional untuk berdiskusi dan bertukar wawasan riset mutakhir mengenai teknologi dan menemukan solusi terkait masalah di bidang teknik industri. Perubahan yang terjadi karena pandemi, menjadikan Resiliensi sebagai tolok ukur dalam bisnis berkelanjutan. Teknik Industri dan displin ilmu lainnya mencoba menemukan solusi untuk beradaptasi dalam perubahan ini dengan bersatu bersama banyak pihak untuk membangun resiliensi bisnis untuk menghadapi tantangan di masa pandemi.” jelas Dr. Ir. Hendri D.S. Budiono M.Eng., Dekan FTUI yang kemudian menutup sambutannya dengan membacakan puisi karyanya yang berjudul “Never Give Up”.

Prof. Junichi Iijima, Ph. D. dari School of Management, Tokyo University of Science, memberikan presentasi tentang “Bagaimana Sebuah Perusahaan Dapat Bertahan di Era Digital?”. Dalam presentasinya beliau memberi contoh dari sebuah perkiraan yang dikeluarkan oleh Kementrian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Pemerintah Jepang mengenai “ Digital Cliff”.

“Saat ini, setiap perusahaan sedang berjalan menuju ujung sebuah tebing, yang diibaratkan sebagai tahun 2025. Saat sebuah perusahan menuju ke ujung tebing tersebut, perusahaan akan menghadapi angin, badai, dan hujan. Apabila perusahaan tidak melakukan Transformasi Digital, perusahaan tersebut akan jatuh dari tebing itu ke laut. Namun, apabila perusahaan dapat bertransformasi ke bentuk digital, di ujung tebing nanti, perusahaan akan diibaratkan seperti burung yang dapat terbang,” ungkap Prof. Iijima dalam presentasinya.

Prof. Junichi Iijima juga menjelaskan tentang transformasi bisnis digital. Transformasi ini menggambarkan bagaiaman organisasi mengalami perubahan terkait penggunaan teknologi digital dan model bisnis untuk meningkatkan performa perusahaan. Teknologi digital identik dengan SMACIT (Social, Mobile, Analytics, CLOUDS, IoT) dan CAMBRICK (Cloud, AI, Mobility, Big Data, Robotics, IoT, Cyber Security). Selain melakukan transformasi digital, perubahan perilaku perusahaan di era digital juga sama pentingnya. Prof. Iijima kemudian menyebutkan tujuh kemampuan bisnis digital yang harus diperhatikan oleh setiap perusahaan, di antaranya adalah planning and execution management dan information exploitation management.

Pada era transformasi digital, selain perusahaan berfokus pada teknologi digital yang digunakan, perusahaan perlu memikirkan mengenai Design Thinking. Design Thinking berfokus memberikan inovasi terbaru kepada masyarakat. Gabungan antara teknologi digital dan Design Thinking menghasilakn sebuah sinergi yang baik untuk memberikan pelayanan yang tepat dan cepat kepada pelanggan di era digital ini.

Prof. Dr. Ir. Alexander Verbraeck dari Delft University of Technology, Belanda, yang merupakan pembicara kedua, menyampaikan presentasi dengan tema “Penggunaan Model dan Simulasi untuk meningkatkan Resiliensi jaringan Transportasi”.

Pandemi Covid-19 menjadi salah satu disrupsi dalam dunia transportasi. Tidak hanya pandemi, disrupsi lain, seperti bencana alam dan peraturan terkait geopolitik juga berdampak pada jaringan transportasi. Disrupsi ini nyata dan tidak dapat terhindarkan. Dibutuhkan resiliensi untuk menhadapi tantangan tersebut. Resiliensi dapat ditemukan melalu analisis risiko secara ktitis.

“Ada beberapa cara untuk resiliensi jaringan transportasi. Pertama, memetakan risiko dengan menggunakan cara kolboratif, seperti proaktif dan reaktif. Kedua, memvisualisasikan risiko melalui simulasi untuk strategi dan pembuatan peraturan terkait jaringan transportasi. Ketiga, meningkatkan kepeduliaan melalui simulasi berbasis visual. Keempat, simulasi digunakan untuk memprediksi dampak dari kebijakan yang diambil. Terakhir, pemuatan meta-modeling jika diperlukan.” tutup Prof. Dr. Ir. Alexander Verbraeck.

FacebookTwitter
X