Penelitian tim dari pusat riset TREC (Tropical Renewable Energy Center) Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) yang dipimpin oleh Dr. Ing. Eko Adhi Setiawan, DCON, mendapat rekognisi internasional dengan dipesannya tiga buah perangkat konversi daya listrik berkapasitas 3000 watt tersebut oleh The Hawai’i Natural Energy Institute (HNEI) yang merupakan salah satu pusat riset energi terkemuka di Amerika Serikat. DCON akan dipergunakan dalam proyek GridStart.

Project GridStart adalah suatu proyek yang dilakukan HNEI bekerja sama dengan berbagai pihak dalam dan luar negeri untuk melakukan pengembangan sistem teknologi kelistrikan arus searah atau microgrid DC terkini. DCON akan menjadi komponen utama dalam sistem jaringan listrik searah dalam rentang tegangan 230-330 volt yang tengah dikembangkan di Amerika Serikat. DCON berfungsi untuk mengkonversi daya listrik dari baterai yang diisi dari sumber energi terbarukan, seperti panel surya atau turbin angin untuk kemudian disalurkan pada peralatan listrik rumah tangga hingga pengisian baterai kendaraan listrik.

Research Corporation University of Hawaii (RCUH) mengadakan Agreement for Services dengan FTUI dimana RCUH membayar layanan TREC untuk penyediaan tiga buah konverter di proyek jaringan listrik searah di Coconut Island, Hawaii. Tujuan dari perjanjian ini adalah untuk mengembangkan hubungan penelitian kolaboratif antara HNEI dan TREC dan memungkinkan penelitian yang saling menguntungkan serta berbagi pengetahuan untuk mencapai state of the art dari penelitian ini secara internasional, demikian penegasan oleh Leon Roose selaku HNEI Principal Investigator dalam surat elektroniknya.

DCON adalah alat konversi daya listrik bertenaga 3 KW yang dikembangkan oleh pusat riset TREC FTUI dengan dukungan dana dari pemerintah melalui program Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Teknologi ini memungkinkan sebuah rumah menggunakan dua sumber listrik yaitu Alternating Current (AC) dan Direct Current (DC), konsep ini disebut dengan konsep dual power.

Menurut Eko, pada dasarnya listrik DC terbukti lebih stabil dibandingkan dengan listrik AC. Dengan adanya DCON, maka listrik AC dapat disimpan dalam baterai untuk kemudian dinaikkan dari 48 volt menjadi 230 DC. “Teknologi DCON dikembangkan karena listrik DC terbukti lebih stabil dibandingkan dengan listrik AC, dan dapat dibangkitkan langsung oleh panel surya yang dapat dipasang atap rumah sehingga tidak terjadi perubahan konversi energi listrik dari DC ke AC yang menggunakan inverter yang sudah umum digunakan,” ujar Eko yang juga menjabat sebagai Kaprodi Magister Teknik Sistem Energi FTUI.

Pada bulan Agustus 2021, alat ini pun sudah diverifikasi oleh tim Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) pada level 7, yang berarti bahwa perangkat ini sudah melalui pengujian pada kondisi sebenarnya dan persiapan masuk ke tahap komersialisasi.

”DCON adalah alat konversi daya listrik yang dikembangkan oleh pusat riset TREC FTUI sejak beberapa tahun terakhir dan saat ini sedang mendapatkan dukungan dana dari pemerintah melalui program Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) hingga hilirisasi produk. Alat ini pun telah diverifikasi oleh tim Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) pada level 7, yang berarti bahwa perangkat ini sudah melalui pengujian pada kondisi sebenarnya dan persiapan masuk ke tahap komersialisasi,” ujar Eko yang juga menjabat sebagai Kaprodi Magister Teknik Sistem Energi FTUI.

Saat ini tiga buah alat DCON telah dikirimkan terlebih dahulu ke HNEI. Seremonial sederhana telah dilakukan oleh Dekan FTUI Dr. Ir Hendri D. S. Budiono, M.Eng. bersama Dr. Ir. M Asvial, M.Eng. Wakil Dekan I dan Wakil Dekan II Prof. Dr.-Ing Nandy Putra. ”Riset DCON selaras dengan agenda besar dunia yaitu energy transition dimana penggunaan energi terbarukan akan semakin marak ditengah masyarakat yang mulai beralih dari energi listrik berbasis batubara dan FTUI terus mendorong penelitian, pengembangan dan pemanfaatan teknologi energi terbarukan untuk menuju Net Zero Emission di lingkungan FTUI. Salah satunya dengan pemasangan beberapa instalasi solar panel di FTUI seperti pemasangan 101 kW digedung baru Gedung Integrated Creative Engineering Learning (i-CELL).” kata Hendri.

FacebookTwitter
X