Penggunaan alat-alat elektronik portebel seperti telepon selular, computer pribadi, kamera digital, dan lain-lain, menjadi sangat akrab dan sudah menjadi gaya hidup masyarakat di era digital ini.Badan Internasional energy agency (IEA) melansir bahwa, pada tahun 2013, porsi kecil dari populasi global dunia, menggunakan lebih dari 14 milyar perangkat yang terhubung ke jaringan, baik di kantor maupun di rumah [1]. Dalam pemakaiannya, barang-barang elektronik tesebut harus diiringi dengan penggunaan baterai sebagai sumber tenaga yang penting.

Secara umum baterai terbentuk dari tiga komponen utama yaitu anoda, katoda, dan elektrolit. Selama proses discharge (peluahan energy keluar system), baterai mensuplai energy listrik hasil reaksi reduksi-oksidasi Antara elektroda (anoda dan katoda) dengan elektrolit, ke sirkuit luar. Elektrolit menjadi media untuk pengantaran muatan di dalam baterai, data terjadi reaksi tersebut dari anoda dan katoda dan sebaliknya.

Baterai-baterai tardisional seperti baterai ion-Lithium dalam telepon genggam, umumnya bergantung pada aliran muatan (ion) di dalam elektrolit cair Antara keuda elektroda. Akan tetapi, baterai-baterai yang memanfaatkan elektroit cair, cenderung memiliki masalah kritis akibat penggunaan larutan organik yang sangat mudah terbakar, atau elektrolit polimer yang memiliki stabilitas termal dan titik bakar yang rendah. Keduanya rentan menjadi penyebab kebakaran dan ledakan bila digunakan secara tidak tepat [2-3]. Lapisan separator dari bahan polimer, juga digunakan didalam baterai tradisional sebagai pemisah elektroda, untuk menghidari terjadinya kontak Antara keduanya. Namun, bahan separator polimer ini hanya mampu bertahan sampai suhu pemakaian baterai sekitar 70 oC. Sehingga pemakaian pada suhu lebih tinggi, membuat baterai dalam kondisi rentan terbakar. Oleh karena itu, untuk memecahkan isu-isu keselamatan tersebut, pemafaatan bahan elektrolit in-organik jenis padatan yang memiliki stabilitas termal tinggi menjadi pilihan yang tepat menggantikan elektrolit organik jenis cair dan separator.

Manfaat penggunaan elektrolit jenis padat pada baterai salah satunya adalah untuk menghindari kebocoran cairan elektrolit, sehingga baterai terbebas dari peluahan enegi secara spontan (self discharge), dan menjadi lebih aman. Penggunaan. Penggunaan elektrolit padat memfasilitasi baterai pada kondisi menjadi lebih mudah untuk dikemas dalam bentuk yang lebih kecil, sehingga densitasnya akan menjadi lebih besar. Hal ini sangatlah penting untuk apliksai baterai dalam perangkat elekronik, karena baterai menjadi tidak makan tempat, sehingga perangkat yang menggunakannya menjadi lebih portabel. Selain itu, dibandingkan dengan elektrolit cair, elektrolit padat menunjukkan stabilitas elektro kimia yang lebih baik, dan bisa cocok dipadukan dengan katoda yang memiliki potensial lebih tinggi untuk meningkatkan densitas energi.

Dr. Heri Jodi berhasil mempertahankan disertasinya dihadapan para penguji yang terdiri dari:

Prof. Dr. Ir. Akhmad. H. Yuwono, M.Phil.Eng.
Ir.Chairul Hudaya, ST., M.Eng.,Ph.D.IPM
Drs. Nofrizon Sofyan, M.Si.,Ph.D.
Dr. Ir. Bambang Priyono, MT.
Dr. Ir. Bambang Prihandoko, M.T.

dengan Promotor:
Prof.Dr.Ir. Anne Zulfia Syahrial, M.Sc.

dan Ko-Promotor:
Prof.Dr. Rer.nat. Evvy Kartini

 

FacebookTwitter