Pada hari Rabu (23/06/2020), Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) menganugerahkan gelar doktor kepada salah satu mahasiswa terbaik FTUI, Armand Omar Moeis. Melalui disertasinya yang berjudul “Pengembangan Model Kebijakan Klaster Pelabuhan Indonesia dengan Pendekatan Analisis Kebijakan Multi Aktor”, Omar resmi menyelesaikan pendidikan Doktor pada Departemen Teknik Industri FTUI.

Ujian promosi Doktor yang dipromotori oleh Prof. Dr. Ir. Teuku Yuri M. Zagloel, M. Eng.Sc. dan ko-promotor Dr. Ir. Akhmad Hidayanto, M.B.T. ini dilakukan secara daring (dalam jaringan). Anggota tim penguji terdiri dari Prof. Ir. I Nyoman Pujawan, M. Eng., Ph.D. (ITS), Prof. Dr. Ir. Sunaryo, M.Sc. (UI), Dr. Ing. Amalia Suzianti, S.T., M.Sc. (UI), Dr. Komarudin, S.T., M.Eng. (UI), dan Dr. Andri D. Setiawan, S.T., M.Sc. (UI).

Penelitian yang dilakukan bertujuan tidak hanya untuk mengembangkan pemahaman akan Klaster Pelabuhan Indonesia, juga untuk menghasilkan model kebijakan Klaster Pelabuhan Indonesia yang berkelanjutan dengan menggunakan pendekatan Analisis Kebijakan Multi-Aktor. Pola pengembangan klaster pelabuhan semacam ini belum dilembagakan sebelumnya di Indonesia.

Latar belakang penelitian yang dilakukan Armand ini adalah posisi strategis geografis Indonesia yang berada pada perlintasan jalur pelayaran dunia dan menjadi pasar bagi industri maritim yang ada di dunia. Namun, di Indonesia belum terdapat pandangan utama yang melihat pelabuhan sebagai sebuah klaster industri. Apabila pelabuhan dikembangkan sebagai sebuah klaster, maka akan memberi kontribusi ekonomi yang lebih besar lagi.

Dengan digunakannya Analisis Kebijakan Multi-Aktor, maka dibangun beberapa model menggunakan metode Simulasi Diskrit, Riset Operasi, Sistem Dinamis, dan Permainan Simulasi. Dalam hal ini perlu dilihat siapa saja aktor yang terlibat di dalam sistem dan bagaimana pola pengambilan kebijakan yang dapat terjadi (hubungan pengaruh antar aktor tersebut).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ditemukan model-model yang dibangun sangat bergantung pada pengampu masalahnya (aktor). Perbedaan perspektif akan membawa kita pada model yang berbeda dan berujung pada solusi yang berbeda. Untuk itu, sebuah sistem multi-aktor, seperti klaster pelabuhan, membutuhkan sebuah pemahaman kolektif agar dapat berjalan dengan baik.

FacebookTwitter
X