Pada Kamis, (30/01/2020) Fakultas Teknik UI kembali menganugerahkan gelar Doktor kepada salah satu mahasiswa terbaik FT UI, Jonny. Melalui disertasinya yang berjudul “Pengembangan Model Manajemen Mutu Terpadu Untuk Rumah Sakit”, Jonny resmi menjadi Doktor ke-4 dari Departemen Teknik Industri FTUI. Mahasiswa kelahiran Pontianak ini telah lulus dengan predikat memuaskan.

Penelitian yang dipromotori oleh Prof. Dr. Ir. Teuku Yuri M. Zagloel, M.Eng.Sc dan ko-promotor Prof. Drh. Wiku Bakti Bawono Adisasminto, M.Sc., Ph.D. ini bertujuan untuk mengingkatkan mutu pelayanan rumah sakit yang ebih efisien dan Cost Effective. Keberadaan rumah sakit sebagai bagian dari sistem pelayanan kesehatan dengan nilai strategis Millenium Development Goals telah mendorong institusi ini untuk dapat menerapkan konsep Manajemen Mutu Terpadu atau Total Quality Management (TQM) dalam rangka mencapai kualitas optimal dan cost effective salah satunya melalui model generik TQM yaitu ISO 9001 dan Joint Commission International. Dari data yang ada, diketahui jumlah rumah sakit di Indonesia yang terakreditasi relatif masih sedikit dan dari jumlah yang terakreditasi kualitas pelayanannya dirasakan masih variatif dengan kondisi mutu rumah sakit pemerintah dipersepsikan lebih rendah dibandingkan mutu rumah sakit swasta. Hal ini dibuktikan antara lain dengan banyaknya keluhan pasien atas pelayanan yang tidak sesuai dengan Standard Operating Procedure, sarana dan prasarana yang tidak memadai dan kurangnya kenyamanan dan keamanan pasien. Fakta-fakta ini tentunya mengarahkan pada kesimpulan bahwa penerapan model generik seperti ISO 9001 di rumah sakit tidaklah memuaskan. Bila ditinjau dari sendi filosofis TQM maka dari sisi Customer Focus, masih ditemukannya ketidakseragaman pemahaman bagaimana Customer Focus yang diterjemahkan sebagai Patient-centred Care seharusnya diterapkan sehingga pasien merasakan pelayanan lebih berpusat pada dokter daripada berpusat pada pasien seperti yang menjadi harapan diterapkannya TQM di rumah sakit. Selain itu, dari perspektif Continual Improvement juga terlihat tidak berjalan dengan baik. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kemampuan personil rumah sakit untuk menemu-kenali permasalahan yang perlu dilakukan perbaikan dan keterlibatan semua pihak dalam gerakan perbaikan berkelanjutan. Terakhir, dari sisi Total Participation, adanya reluctancy dari tim yang ada di rumah sakit karena adanya ego sektoral karena profesionalisme yang menjadi acuannya telah menghambat berjalannya Total Participation ini. Kondisi yang tidak memuaskan ini telah meningkatkan urgensi untuk mengembangkan model TQM untuk rumah sakit yang mengandung konstruk, model pengukuran dan struktural TQM yang secara spesifik berasal dari lingkungan rumah sakit. Diharapkan, dengan dikembangkannya model TQM untuk rumah sakit. maka manajemen rumah sakit dapat memetik manfaat berupa peningkatan kinerja rumah sakit dan kepuasan pasien.

FacebookTwitter
X