Prof. Dr. Ir. Wahyu Nirbito, MSME., ditetapkan sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Sabtu lalu, dengan kepakaran dalam bidang ilmu perancangam sistem mekanikal. Dalam upacara pengukuhannya, ia menyampaikan pidato berjudul “Fenomena Getaran pada Pemantauan Kondisi Kesehatan Mesin, Pendukung Diagnosis dan Prognosis Kegagalan Sistem Mekanikal dalam Pemeliharaan Mesin yang Efektif dan Efisien.”

Menurutnya, getaran adalah terminologi yang digunakan guna menunjukkan adanya perubahan besaran parameter gerak fisik dari suatu sistem mekanikal, yang berulang dengan interval waktu, serta arah yang kurang lebih teratur. Fenomena gerak ini dikenal sebagai gerak isolasi.

“Yang sering tidak disadari, terabaikan bahkan terlupakan adalah bahwa sistem pegas-massa tersebut akan tetap diam, statis, tidak melakukan gerakan osilasi apapun bila didiamkan atau belum tersentuh. Sistem pegas-massa baru akan bergerak osilasi apabila diberi aksi di awalnya, misalnya ditarik atau didorong atau dengan kata lain diberi simpangan awal kemudian dilepaskan,” ujarnya.

Prof. Wahyu saat ini merupakan Kepala Laboratorium perancangan sistem mekanikal dan bio mekanikal Departemen Teknik Mesin FTUI, menjelaskan getaran merupakan indikator terbaik yang memberikan sinyal adanya gangguan pada kesehatan mesin. Sebagai respons dinamik terhadap suatu eksitasi, maka getaran akan timbul pada satu sistem mekanikal yang bekerja. Hal ini karena dalam satu sistem mekanikal yang bekerja terjadi interaksi gaya maupun massa yang bekerja dan dinamis atau bergerak. Getaran yang terjadi dapat dalam tingkatan yang sangat halus sampai dengan yang hebat atau sangat kasar.

Getaran yang sudah dapat terdeteksi dan terukur memberi arti bahwa kerusakan tertentu pada sistem mekanikal yang diperhatikan sudah ada, karena getaran itu sendiri adalah sebagai respons dinamik dari suatu eksitasi yang muncul dan berasal dari ketidaknormalan atau kerusakan. Getaran sebagai respons dinamik besarnya tergantung dari besarnya eksitasi yang terjadi karena adanya ketidaknormalan bekerjanya suatu sistem mekanikal pada mesin dan menjadi petunjuk adanya ketidaksehatan mesin.

“Dalam beberapa tahun ke depan, tampaknya belum ada yang akan menggantikan teknik diagnosis maupun prognosis dengan menggunakan dukungan data respons getaran. Perkembangan yamg ada lebih kepada peningkatan efisiensi kerja teknik pemeliharaannya seirimg dengan perkembangan teknologi digital yang semakin maju dan meluas,” ujar Wahyu.

Di akhir pidato, Wahyu berpesan kepada dosen muda agar lebih bersemangat dan lebih giat dalam membina karier akademisnya sambil terus mengasah kemampuan secara akademik maupun secara praktisi. “Jangan ragu apalagi takut untuk terjun ke dunia nyata, aplikasikan tingkat pengetahuan yang kalian miliki untuk membantu pemecahan persoalan dunia nyata, dan memperkaya pendalaman akademis ilmu kalian,” ujarnya.

Wahyu, dosen tetap Departemen Teknik Mesin FTUI menyelesaikan pendidikan jenjang S1 Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik UI pada tahun 1982. Ia melanjutkan jenjang S2 Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik University Of Minnesota, USA pada tahun 1987. Pendidikan terakhir S3 Program Studi Teknik Mesin, di tempuh di Fakultas Teknik UI pada tahun 2011.

Wahyu cukup aktif menulis karya ilmiah, beberapa diantaranya berjudul “Problems Analysis on Preparation of Oil and Gas Drilling Rig Installation for Next Operations Readiness after HPHT (High Pressure High Temperature) Well Operation” (Andrew Samuelson, Wahyu Nirbito, 2020); “Performance Analysis of Combined Cycle with Air Breathing Derivative Gas Turbine, Heat Recovery Steam Generator, and Steam Turbine as LNG Tanker Main Engine Propulsion System” (Wahyu Nirbito, Muhammad Arif Budiyanto, Robby Muliadi (2020); “Study of Tail Rudder Deflection Angles for Stabilizing the Twin Turboprop Small Passenger Aircraft in Critical Flight due to One Engine Failed Condition” (Y. V. Agatha, W. Nirbito, 2020).

FacebookTwitter
X