Setelah melakukan launching pada (16/09/22) lalu, Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Indonesia (DTE FTUI) kembali melaksanakan Friday Morning Forum (FMF). Kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap hari jumat ini telah memasuki seri kedua. Pada pekan ini, FMF menghadirkan pemateri dari Antenna Propagation and Microwave Research Grup (AMRG) yang diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Eko Tjipto Raharjo., M.Sc., dan Prof. Dr. Ir. Fitri Yuli Zulkifli., S.T., M.Sc., IPU., dilaksanakan pada (23/09/22) di Auditorium MRPQ DTE FTUI.

“Antenna Propagation and Microwave Research Grup (AMRG) merupakan riset grup yang lahir tahun 1997. Sejarah panjangnya terus berkembang, tahun 2000 berhasilkan mendirikan fasilitas ruang anti gema (QUE project), tahun 2007 merenovasi ruang anti gema dan radar maritim dengan IRCTR Tu Delft, tahun 2010 melakukan kerja sama dengan Kominfo dan mendapatkan hibah alat hibah, seperti alat ukur VNA sampai 13 Giga, tahun 2016 melakukan Pusnas dan mendesain Radar, dan tahun 2021 berhasil menciptakan VNA baru: 40 GHz dan juga mendapatkan Laboratium Prof. Fitri Yuli Zulkifl dari FTUI. Sebagai informasi, bahwa AMRG memiliki lebih dari 60 hibah riset, publikasi lebih dari 200 paper (Q1=+8, Q2=+7, Q3=+11), danHKI 3 hak cipta yang paten,” ungkap Prof. Fitri Yuli dalam memberikan sambutannya.

Pada kesempatan ini, A’Isya Nur Aulia Yusuf (anggota AMRG) berkesempatan menjadi presenter pada FMF Sesi 2. Beliau memaparkan topik penelitian dengan judul “Antenna Design Development Using Machine Learning for Grain Enhanncement”. FMF kali ini dimoderatori oleh Nur Ibrahim, anggota Data Engineering and Intelligent System RG (DEIS-RG).

Riset yang dilakukan A’Isya di AMRG ini, dilatarbelakangi dari konsep komunikasi nirkabel, bahwa dahulu Handphone bentuknya masih besar dengan antena panjang. Semakin berkembangnya zaman, tren antena pun semakin kecil dari segi ukuran. Sementara itu, salah satu antena jenis monopol tidak bisa memenuhi kebutuhan device tersebut. Untuk itu, A’Isya memiliki suatu demand untuk membuat antena yang dapat ditanam di dalam device. Maka, riset yang dilakukan A’Isya pun berkisar pada antena  microstrip.

“Pemilihan antena microstrip dilakukan sebab memiliki kelebihan, seperti ukurannya lebih kecil dibanding antena monopol, sisi dimensi itu tidak terlalu tebal, dan mudah diintegrasikan dengan komponen elektronik lainnya. Namun, ukuran antena jenis microstrip yang kecil, membuat bandwidth sempit dan gen rendah. Maka, bagaimana caranya bandwidth dapat melebar guna mengakomodasi frekuensi yang dibutuhkan dengan suatu metode yang tetap membuat gen tinggi,” jelas A’Isya.

Ada beberapa cara yang dapat meningkatan gen, salah satu cara yang digunakan A’Isya adalah Defected Grain Structure (DGS). DGS ini dipilih karena bisa meningkatkan gen dan mengubah grown tanpa harus menambah dimensi antena. Nantinya, grown akan didesain secara keseluruhan. Pengubahan grown dilakukan agar bisa meningkatkan gen pada antena microstrip.

Setelah sesi pemaparan dari presenter, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab antara A’Isya dengan peserta, seperti dari kalangan Guru Besar, Dosen, Mahasiswa Sarjana dan Pascasarjana DTE FTUI.

***

Biro Komunikasi Publik
Fakultas Teknik Universitas Indonesia

FacebookTwitter
X