“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.” (Kentut Kosmopolitan, 2004:205).

Perancangan kota di Indonesia belakangan ini menjadi “hot topic” terutama sejak rencana pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ramai diperbincangkan. Jika perancangan kota di Barat dan negara maju telah selesai ataupun memasuki era “senjakala”, di Indonesia ia masih menunjukkan potensi yang sangat besar untuk mengubah lingkungan binaan. Salah satu pemicu munculnya perancangan kota sebagai bidang profesional adalah perhatian terhadap tampilan kota secara tiga dimensi sehingga diperlukan sebuah pendekatan untuk menjembatani gap antara perencanaan dan arsitektur.

Walaupun praktik rancang kota kini sudah menjangkau kota-kota sedang dan kecil, sebagai bidang ilmu, perancangan kota masih belum sematang ilmu perencanaan kota atau studi perkotaan lain. Hal ini karena bidang ini memiliki cakupan yang begitu lebar, mulai dari pendekatan analisis spasial yang sifatnya sangat matematis; diskursus sosio-kultural ruang publik yang sangat kualitatif; hingga interpretasi terhadap kualitas rancangan atau nilai-nilai estetika yang selalu menyertai karya rancang kota, namun sulit dianalisis secara objektif.

Prof. Ir. Evawani Ellisa, M.Eng., Ph.D. dalam naskah pidatonya yang berjudul “Telaah Sejarah, Konteks, dan Budaya dalam Wacana Perancangan Kota: Refleksi dan Introspeksi” membagi manuskrip tersebut menjadi dua bagian. Bagian pertama berisi telaah perancangan kota dari sisi sejarah, konteks, dan budaya; yang diawali dengan diskusi tentang lahirnya perancangan kota dengan melihat kota di Eropa dan Amerika. Kemudian, dilanjutkan dengan kajian tentang sosok perancang kota yang tidak terlepas dari pengaruh kekuasaan politik dan paradigma kapitalisme neoliberal.

Pada bagian kedua, manuskrip ini berfokus pada refleksi atas tragedi kehidupan perkotaan, yaitu peristiwa jatuh bangun yang dialami kota-kota besar di dunia dengan mengambil kasus Kota London. Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan melihat kota di Indonesia, yang difokuskan pada wilayah permukiman informal, yaitu tentang ketahanan warga kampung kota. Baik kasus Kota London maupun kampung kota, masing-masing menggambarkan proses aksi-reaksi yang selalu terjadi menyusul setiap peristiwa yang menimpa keduanya. Terakhir, manuskrip ini juga membahas wacana kota pascapandemi untuk mengajak pembaca berintrospeksi dan bersiap diri menghadapi tantangan di masa depan.

Menurut Prof. Evawani Jakarta tidak bisa terlepas dari belenggu kekuatan kapitalisme yang telah mengubah wajah kota secara sosio-spasial, dalam proses akumulasi kapital yang diwujudkan ke dalam ruang-ruang baru. Mengutip pernyataan penyair sekaligus pengarang Seno Gumira Ajidarma, ada istilah “Homo Jakartanensis” yang disematkan bagi warga yang digambarkan sebagai orang-orang yang datang dari daerah dan beradu nasib di kota yang nampak megah dari luar namun ringkih di dalam.

Permukiman informal merupakan wilayah yang berkembang tanpa kontrol formal dari otorita kota, hidup berdampingan tetapi tidak selalu sinonim dengan permukiman illegal, seperti squatter dan slum. Catatan UN-Habitat (2006) menunjukkan lebih dari 1 milyar populasi dunia tinggal di wilayah permukiman informal dan diperkirakan meningkat menjadi 1,4 miliar di tahun 2020. Penyebaran sekaligus ketahanan permukiman informal terutama di negara Global South berlangsung secara fenomenal walaupun dalam 50 tahun terakhir ini pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menghentikan pertumbuhannya.

Kampung Cikini RW 01, Kelurahan Pegangsaan merupakan kantong permukiman di tengah-tengah Jakarta Pusat. Daerah ini dipilih sebagai salah satu laboratorium bagi klaster perancangan perkotaan di Departemen Arsitek, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia (FT UI). “Dari 10 tahun kolaborasi yang telah kami lakukan dengan kampung tersebut, disimpulkan dua premis. Pertama, keguyuban adalah katup pengaman yang menjaga warga tidak terperosok dalam kubangan kehidupan metropolitan yang merana. Kedua, cara mengekspresikan perasaan bahagia sangat kentara ditunjukkan oleh warga dalam perayaan-perayaan yang melibatkan orang luar dan spontanitas adalah bagian dari kekuatan mereka,” Prof. Evawani.

Dalam pidatonya, Prof. Evawani menambahkan, kota-kota adalah karya manusia yang tidak sempurna. Mereka berada di antara dua pendulum; antara bangkit dan terpuruk. Kota merupakan amplifikasi dari kesuksesan sekaligus kegagalan besar umat manusia. Manuskrip ini adalah rangkaian fragmen tentang wacana perancangan kota yang terus-menerus bertransformasi. Oleh sebab itu, manusia dan lingkungan binaan akan terus beradaptasi tanpa pernah mencapai titik paripurna.

Pendekatan outward looking perlu dilakukan untuk memahami wujud kota secara holistik, sedangkan pendekatan inward looking mendorong untuk bisa berempati terhadap kota. Kedua pendekatan ini yang membawa penelitian pada kesimpulan bahwa temporalitas kota bersifat permanen. Turbulensi oleh tekanan pasar, pandemi, teknologi baru, penyakit sosial, bencana dan seribu satu tantangan kota akan mendorong perubahan tata kelola kota dan akan terus menjadi faktor yang harus diwaspadai oleh aktor-aktor perancangan kota.

Setelah pidato tersebut, Prof. Evawani resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Perancangan Kota, Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Pengukuhan guru besar dipimpin Rektor UI, Prof. Ari Kuncoro, SE, MA, Ph.D., di Makara Art Center dan disiarkan langsung secara virtual melalui kanal Youtube UI Teve.

Acara yang diadakan Sabtu (15/10) ini dihadiri tamu undangan, antara lain Guru Besar Teknik Sipil ITB dan Ketua Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia, Prof. Ir. Iswandi Imran MASc, Ph.D.; Direktur Utama PT JOSO, Thoat Fauzi, IAI; Direktur PT Pratama Daya Cahya Manunggal – Konsultan Perancangan dan Konstruksi Jembatan Baja, Ir. Budi Santoso, M.T.; Wakil Direktur Bid Akademik Politeknik Negeri Jakarta, Ibu Nunung Martina, S.T., M.Si.; Kepala Balai Jembatan Kemen PUPR, Pandji Krisna Wardana S.T., M.T.; Presiden Direktur PT Arkonin, Achmad Noerzaman; CEO The Wisemen & Company, Jennifer Heryanto; perwakilan dari PT Wiratman, Tantri Heryantina; dan Associate Professor Bioengineering, New York University, Dr.-Ing Azhar Zam, S.Si., M.Sc.

Prof. Evawani merupakan Dosen di Departemen Arsitektur, FT UI. Ia menamatkan pendidikan Engineer, Department of Architecture, Faculty of Engineering, Gadjah Mada University, pada 1986; Master of Environmental Engineering, Graduate School of Environmental Engineering, Urban Planning Laboratory, Osaka University, 1994–1996, sponsored by Monbusho; dan Doctor Philosophy of Environmental Engineering, Graduate School of Environmental Engineering, Urban Planning Laboratory, Osaka University, 1996–1999, sponsored by Monbusho.

Beberapa karya ilmiah terbaru yang dipublikasikan, antara lain “Perubahan morfologi Pahandut Kota Palangkaraya sebagai Respons terhadap Pergeseran Budaya Masyarakat Tepi Sungai: Program Publikasi Terindeks Internasional (PUTI) Pascasarjana 2022”, “Smart and Green City: Utopia/Dystopia? Perspektif Milenial Indonesia tentang Pemindahan IKN Nusantara: PUTI Pascasarjana 2022”, “Dibalik Covid-19: Eksplorasi Arsitektur Balai Warga Kampung Cikini Kramat sebagai Penyangga Kehidupan di Masa Pandemi 2021”, dan “The Living Laboratory of Kampung Cikini in Eco City Live Projects 2019”.

***

Biro Komunikasi Publik
Fakultas Teknik Universitas Indonesia

FacebookTwitter
X