Alexander Farrel, Muhammad Rifki Ilham, dan Rizki Estu Rahmaisyraq, Mahasiswa Departemen Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) meraih Juara Kedua dalam Lomba Kompetisi Kasus Bisnis Nasional. Ketiga mahasiswa yang tergabung dalam Tim Takis Ent. mengajukan proposal berjudul “Kecapi: Strategi Menuju Desa Cintaasih dengan ekonomi Maju dan Sosial Sejahtera.”

Ketiga mahasiswa tersebut mempresentasikan solusi terkait strategi bisnis yang harus dilakukan dalam pemberdayaan Desa Cintaasih baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang yang layak secara ekonomi pada lomba kasus bisnis  yang diadakan oleh Satoe Indonesia. Satoe Indonesia merupakan organisasi nonprofit dari kemahasiswaan Sekolah Bisnis Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM-ITB). Perlombaan ini dihelat pada 17 Agustus-11 September 2021.

Desa Cintaasih merupakan desa dengan potensi ekonomi yang terletak di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat. Desa  ini menyimpan banyak potensi di dalamnya. Dari 6.438 penduduk di dalamnya, sebesar 70% berada pada usia produktif. Potensi sumber daya manusia yang luar biasa itu pun diimbangi dengan potensi sumber daya alam yang juga sebanding, dibuktikan dengan lahan pertanian, perladangan, perkebunan dan kehutanannya yang amat luas serta tersebar hampir di setiap dusun. Dominasi tanaman liar dan pepohonan di Desa Cintaasih pun baru-baru ini menghasilkan temuan potensi tanaman herbal yang dapat mendorong terbukanya lahan pekerjaan baru bagi warganya. Selain dalam hal cocok tanam, warga di Desa Cintaasih juga berfokus pada sektor peternakan, perikanan, kependidikan (guru), dan perdagangan.

Dalam hal pariwisata, desa dengan kepadatan penduduk hanya mencapai 14,1 orang per km2 ini memiliki potensi wisata yang bisa didapatkan dari nilai jual keunikan khas daerahnya, yakni atraksi kincir angin (Kolecer). Sayangnya, sarana dan prasarana transportasi menuju desa ini masih menemui banyak hambatan. Kontur daerah khas dataran tinggi ini juga sedikit banyak menjadi penyebab rentannya Desa Cintaasih akan pergerakan tanah. Oleh karena itulah, desa yang memiliki curah hujan level menengah ini mengadakan berbagai kegiatan persiapan kesigapan terhadap bencana.

“Kami memutuskan untuk mengembangkan potensi ekonomi di bidang pertanian, perkebunan, peternakan, kerajinan, dan pariwisata dengan menggunakan omnibus strategy bernama Kecapi  Cintaasih, yaitu singkatan dari Kemajuan Cintaasih dengan Pengembangan Potensi Ekonomi. Kami membagi strategi pengembangan ekonomi Desa Cintaasih melalui beberapa solusi. Solusi ini akan terdiri dari 4 program, yakni, Cintaasih Berdaya untuk alur pengembangan ekonomi, Cintaasih Produktif untuk meningkatkan produktifitas masyarakat, Desa Wisata Cintaasih untuk pengembangan ekonomi pariwisata, dan Cintaasih Naik Kelas untuk pemasaran produk hasil olahan dan pariwisata Desa Cintaasih,” kata Muhammad Rifki Ilham, ketua Takis Ent.

“Pada solusi Cintaasih berdaya kami melaksanakan beberapa kegiatan, yakni penguatan BUMDes Cintaasih, Penguatan Kelompok Tani, Pembentukan Kelompok ternak, Pembentukan Kelompok Pengrajin, dan Pembentukan Kelompok Sadar Wisata. Selanjutnya, Produktivitas hasil produksi potensi ekonomi Desa Cintaasih yang masih tergolong rendah harus dikembangkan lagi dengan industri hilir untuk mendapatkan penambahan nilai jual untuk masyarakat. Kami membawa solusi untuk masyarakat Desa Cintaasih berupa Otomatisasi Produksi. Otomatisasi kinerja dapat meningkatkan jumlah dan kualitas produksi dari masyarakat Cintaasih. Efisiensi juga didapatkan apabila masyarakat mengadopsi teknologi ini.” tambah Muhammad Rifki Ilham, ketua Takis Ent.

“Kami melihat bahwa Desa Cintaasih memiliki potensi besar untuk dijadikan Desa Wisata Cintaasih. Kemauan  masyarakat, keindahan alam, dan keunikan desa menjadi modal kuat pengembangan potensi tersebut. Dengan pengembangan yang tepat, Desa Cintaasih akan mendapat multiplier effect dari pariwisata seperti peningkatan pendapatan, pembukaan lapangan kerja, dan peningkatan penjualan produk. Pengembangan pariwisata Desa Cintaasih harus dilakukan dengan memenuhi 4A (Akses, atraksi, amenitas, dan ancillary) yang merupakan daya tarik wisata,” ujar Alexander Farrel.

“Terakhir dan yang paling penting adalah memasarkan dengan baik produk-produk yang dihasilkan oleh desa ini. Pemasaran menjadi tantangan sendiri untuk produk dari Desa Cintaasih, kebanyakan produk hanya dipasarkan untuk masyarakat desa di saat peminatnya sangat besar di luar sana. Untuk itu, kami merekomendasikan solusi Cintaasih Naik Kelas yang akan me-naik-kelas-kan pemasaran produk Desa Cintaasih dengan menggunakan strategi marketing yang detil dengan memanfaatkan sosial media dan layanan e-commerce,” kata Rizki.

***

Biro Komunikasi Publik
Fakultas Teknik Universitas Indonesia

FacebookTwitter
X