Dua peneliti Universitas Indonesia (UI), Dr. Rr. Dwinanti Rika Marthanty, ST, MT. dari Fakultas Teknik (FTUI) dan Dr. Reni Suwarso dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP UI) menerima dana hibah sebesar 1.8 miliar rupiah (AUD 180.000) dari pemerintah negara bagian Victoria, Australia sebagai bagian dari Program Citarum untuk mengatasi polusi berat di Sungai Citarum, Jawa Barat. Hibah ini diberikan melalui program Study Melbourne Research Partnerships, yang disalurkan melalui veski.

“Sebagaimana kita ketahui, Sungai Citarum, Jawa Barat merupakah sungai paling tercemar di dunia. Hibah yang kami terima ini memungkinkan Program Citarum untuk membentuk konsorsium internasional untuk mengembangkan dan menguji pendekatan baru dan terukur untuk mengubah air limbah dan limbah padat menjadi sumber daya baru, dengan menggabungkan teknologi inovatif dengan model bisnis, institusi, dan perilaku baru untuk mengatasi pencemaran sungai,” kata Dwinanti.

“Program ini juga bertujuan untuk menciptakan Kerangka Transformasi Sungai (RTF) melalui penggabungan prinsip-prinsip desain perkotaan dengan wawasan dari transisi keberlanjutan perkotaan dan ekonomi sirkular. Program Citarum juga akan mengembangkan tempat percontohan laboratorium hidup di Sungai Citarum dan akan berkolaborasi dengan pemerintah, penduduk sekitar, dan para pelaku industri pertanian, untuk mencari solusi yang dapat dijalankan secara terdesentralisasi, dan kedepannya akan dimiliki, dikelola, dan dioperasikan secara lokal oleh masyarakat sekitar,” sambung Reni.

Direktur Proyek dan Direktur Informal Cities Lab, Monash University, Profesor Diego Ramirez-Lovering menyatakan, “Laboratorium hidup di cekungan sungai Citarum adalah bentuk inisiatif penelitian berbasis tempat, di mana kami berkolaborasi dengan mitra kami dan desa-desa setempat untuk bersama-sama merancang model perkotaan terpadu yang mengatasi pencemaran sungai yang disebabkan oleh kurangnya infrastruktur limbah dan sanitasi. Tujuan program ini adalah untuk bersama-sama menciptakan solusi terkait pencemaran limbah dan air yang diharapkan dapat mendorong terciptanya perilaku dan praktik baru. Kedepannya, ini akan membantu memulihkan dan melindungi sungai, serta meningkatkan kehidupan dan mata pencaharian komunitas sungai yang rentan.”

Atas undangan Pemerintah Jawa Barat, konsorsium akan mengembangkan lokasi percontohan di ruas Sungai Citarik, anak sungai hulu Citarum, sepanjang 2,6 km. Selama 12 bulan ke depan, studi kelayakan untuk sistem air limbah dan limbah sirkular akan menginformasikan pemilihan teknologi berkelanjutan dan solusi sosial yang akan didemonstrasikan di sebuah desa di DAS Citarum.

Ditemui di kesempatan terpisah, Sekretaris Universitas UI, dr. Agustin Kusumayati, M.Sc., Ph.D. menyampaikan penghargaannya atas hibah ini. “Kolaborasi internasional merupakan sesuatu yang sangat didukung oleh Universitas Indonesia. Melalui program hibah Citarum ini, UI membawa pengetahuan lokal dalam tata kelola dan ilmu sosial terkait dengan perubahan perilaku masyarakat sekitar serta ilmu teknik terkait pemodelan hidrologi dan spasial dalam pembangunan laboratorium hidup. Kami berharap, penelitian ini akan menghasilkan bukti spesifik konteks yang dapat dikembangkan sebagai solusi untuk diterapkan di seluruh sungai di Indonesia dan Asia-Pasifik.”

Proyek Citarum telah dimulai pada tanggal 15 Oktober 2021 dan diharapkan selesai pada 14 Oktober 2022. Proyek yang dipimpin bersama oleh Monash University dan Universitas Indonesia ini turut melibatkan beberapa lembaga penelitian internasional, termasuk Universitas Padjadjaran (UNPAD), CSIRO, Swiss Federal Institute of Aquatic Science and Technology (EAWAG) di Swiss, serta Badan Lingkungan Hidup dan Litbang Jawa Barat, dan kedepannya akan menjadi program pembelajaran dan inovasi tahun jamak.

Program Citarum merupakan satu dari 15 proyek penelitian yang telah menerima dana hibah dengan total AUD 2.8 juta dari Pemerintah negara bagian Victoria, Australia. Proyek-proyek penelitian ini mencakup pertambangan, manufaktur maju, kesehatan dan pendidikan, termasuk penggunaan realitas virtual untuk melatih profesional kesehatan jarak jauh di 12 negara, termasuk Korea Selatan, Jepang, Indonesia, dan Vietnam.

***

Biro Komunikasi Publik
Fakultas Teknik Universitas Indonesia

FacebookTwitter
X