“Saat ini, kita memasuki era transformasi digital yang pada akhirnya akan merubah hampir seluruh sendi kehidupan manusia. Hal ini dapat terjadi terutama karena pengembangan di bidang fotonika, yaitu teknologi yang memanfaatkan cahaya. Secara khusus teknologi ini memungkinkan terciptanya divais dan solusi hampir di setiap sektor kehidupan, yang tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup manusia,” ujar Prof. Dr. Ir. Retno Wigajatri Purnamaningsih, M.T., saat menyampaikan pidato berjudul “Divais Fotonika: Kunci Pemampu Transformasi Digital” dalam Sidang Terbuka pengukuhannya menjadi Guru Besar bidang Ilmu Divais Opto-Elektronika Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Sabtu (13/11).

Prof. Retno menjelaskan pengembangan di bidang fotonika pada empat sektor kehidupan. Di sektor telekomunikasi, infrastruktur berbasis fotonik berperan dalam realisasi transmisi data dengan laju transmisi yang sangat tinggi pada berjuta-juta jaringan serat optik di seluruh dunia. Kemudian, di sektor kesehatan, sensor berbasis fotonik yang sangat akurat, berperan sangat penting dalam mendeteksi kondisi fisik manusia.

“Di sektor industri, perkembangan rangkaian fotonika terintegrasi menghasilkan perangkat keras yang mampu memenuhi tuntutan akan perkembangan algoritma kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan machine learning. Di sektor lingkungan, teknologi berbasis cahaya ini memungkinkan kita untuk dapat memahami secara komprehensif tentang polusi, iklim dan fenomena-fenomena alam,” ujarnya.

Ia berpendapat bahwa masih banyak peran divais fotonika di bidang lain, seperti militer, pertanian, peternakan, pemrosesan makanan, dan lainnya. Revolusi Internet of Thing (IoT) dimana divais dapat beroperasi mengambil keputusan dan berkomunikasi tanpa intervensi manusia akan mengubah kehidupan masyarakat.

Terealisasinya IoT tidak lepas dari kebutuhan akan divais fotonika dalam jumlah yang besar, diantaranya sensor berbasis fotonika yang tertanam di handphone, tablet, drone, dan perangkat lainnya.

“Sejauh ini kami telah mengembangkan berbagai desain fotonik berbasis pandu gelombang pada bahan III-nitrida, khususnya GaN/Safir dan Gan/Silikon, yaitu pembagi daya fotonik, modulator fotonik, directional coupler, saklar fotonik, dan filter fotonik,” kata Prof. Retno.

Di akhir pidatonya, Prof. Retno menyampaikan bahwa kebutuhan akan beragam desain divais fotonika semakin meningkat, dan akan dibutuhkan dalam jumlah besar untuk mendukung realisasi revolusi digital. Namun, fabrikasi divais berbahan semikonduktor menghasilkam jejak karbon dan limbah yang berdampak negatif terhadap lingkungan.

Oleh karena itu, perlu dikembangkan pemanfaatan material dan teknik fabrikasi yang lebih ramah lingkungan, kerja sama lintas bidang ilmu, dan kerja sama internasional di bidang terkait.

Dalam riwayat hidupnya, Prof. Retno bergabung sebagai dosen FTUI sejak tahun 1985 hingga sekarang. Ia menyelesaikan gelar Insinyur Teknik Fisika di ITB Bandung (1980). Kemudian pada tahun 1990, ia melanjutkan studi magister, program studi Opto Elektronika dan Aplikasi Laser di FTUI. Dan pada tahun 2001, ia meraih gelar doktor dari FTUI.

Retno menerbitkan buku berjudul “Divais Fotonika berbasis Galium Nitrida: Teori dan Desain” pada tahun 2020. Selama tiga tahun terakhir ini, tercatat 12 jurnalnya –baik nasional dan internasional– dengan publikasi terbaru tahun 2021 berjudul “The Method of Lines Analysis of TE Mode Propagation in Silica based Optical Directional Couplers”.

FacebookTwitter
X