id
id

Talkshow PWK FTUI: Managing Disaster Risks of High-Density Urban Area

Program Studi Perencanaan Wilayah Dan Kota (PWK) Fakultas Teknik UI bersama Palang Merah Indonesia (PMI) dan Bappenas menyelenggarakan Talkshow dengan tema “Urban Resilience: Managing Disaster Risks of High-Density Urban Area” pada hari Senin (24/10). Tema yang dibawakan pada Talkshow ini mengacu pada Rencana Induk Penanggulangan Bencana (RIPB) 2020-2044 yang memiliki visi untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara tangguh bencana untuk pembangunan berkelanjutan. Tangguh bencana bermakna bahwa Indonesia mampu menahan, menyerap, beradaptasi, dan memulihkan diri dari akibat bencana dan perubahan iklim secara tepat waktu, efektif, dan efisien.

Talkshow ini diadakan secara hibrid melalui streaming YouTube Fakultas Teknik UI dan offline di FTUI Kampus Salemba. Dalam penyelenggaraannya, PWK FTUI menghadirkan enam pembicara, yaitu Veronica Bell, Sudirman Said, M.B.A., Colin Fernandes, Dr. Phil. Hendricus Andy Simarmata, Diah Lenggogeni, M.Sc., dan Ahmad Gamal Ph.D. Hadirnya enam pembicara dengan bidang keahlian yang berbeda diharapkan dapat memberikan persepsi baru bagi para mahasiswa, praktisi, maupun masyarakat luas mengenai penataan perkotaan yang berkelanjutan dan tangguh terhadap rawan bencana.

Acara dibuka oleh Dr.-Ing Ova Candra Dewi ST., M.Sc., Ketua Program Studi PWK FTUI. Pada sambutannya, beliau menyampaikan secara singkat mengenai semasa 7 tahun terbentuknya PWK FTUI. Selain itu, Dr. Ova juga mengutarakan harapannya untuk PWK FTUI di tahun-tahun berikutnya untuk dapat terus menjalin kerjasama demi terciptanya masa depan yang lebih baik.

Pembicara pada sesi pertama, Sudirman Said, M.B.A. selaku Sekjen PMI menyampaikan materi mengenai kewenangan PMI dalam menghadapi bencana di Indonesia. “Sampai saat ini, PMI memiliki satu pusat nasional dan cabangnya tersebar di 34 Provinsi sejumlah 478. Dalam manajemen resiko bencana, PMI membagi respon menjadi 3. Yang pertama kita akan menangani hal-hal yang darurat terlebih dahulu, kemudian langkah selanjutnya berfokus pada pemulihan, dan yang terakhir adalah melakukan rekonstruksi terhadap kerusakan yang terjadi.”

Veronica Bell hadir sebagai pembicara kedua mewakili Australian Red Cross. Dalam presentasinya, Veronica menyampaikan bagaimana Australian Red Cross membangun strategi tangguh dalam menghadapi terjadinya bencana urban. Strategi tersebut dibagi menjadi 4 prioritas yakni pemahaman terhadap resiko bencana, keputusan yang diperhitungkan berdasar ketahanan pemerintah dalam menangani resiko bencana, melakukan investasi terhadap hal yang dapat mengurangi resiko bencana, dan pemahaman atas tanggungjawab serta peran masing-masing sektor maupun komunitas.

Selain Australian Red Cross, turut hadir perwakilan American Red Cross, Colin Fernandes, sebagai pembicara di sesi ketiga. Senada dengan Veronica, Colin juga memaparkan materi mengenai strategi ketika menghadapi bencana urban namun dalam versi American Red Cross. Pada kesimpulannya, ada lima hal yang menjadi perhatian American Red Cross, yaitu pentingnya sebuah kota untuk mengembangkan inklusi dan keberagaman, menyadari bahwa sebuah kota dapat menjadi tujuan bagi orang-orang terdampak bencana, pentingnya pemahaman mengenai sistem dan perencaan, serta mementingkan masyarakat dibanding profit.

Kemudian sesi dilanjutkan dengan pembicara ke empat, Diah Lenggogeni, M.Sc. sebagai perwakilan dari Bappenas. Pada sesi ke empat, Diah menuturkan materi mengenai kebijakan pemerintah terhadap kota tangguh bencana. “Ada 5 misi yang dibawa dalam kebijakan urban nasional. Yang pertama adalah mewujudkan tata kota nasional yang seimbang, sejahtera, dan berkedilan. Misi kedua adalah mempromosikan kota yang layak huni, inklusif, dan berbudaya. Kemudian misi ketiga yaitu mendorong kota untuk maju dan sejahtera. Misi keempat yang dibawa adalah mempromosikan kota hijau dan tangguh. Terakhir, misi kelima adalah mewujudkan tata kelola kota yang transparan, akuntabel, cerdas, dan terintegrasi,” papar Diah dalam presentasinya.

Ahmad Gamal Ph.D., Direktur Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia menjadi pembicara ke lima dalam Talkshow dengan membawakan materi mengenai perencanaan kota dan masyarakat tangguh bencana di Indonesia. Saat ini, beasiswa mengenai topik bencana masih didominasi oleh tema penurunan resiko bencana yang banyak diangkat oleh peneliti dari Jepang. Sementara tema mengenai persiapan atau mitigasi bencana banyak diangkat oleh peneliti dari China dengan jumlah yang lebih sedikit daripada tema penurunan resiko. Berdasarkan data tersebut, Gamal menyimpulkan bahwa peneliti Indonesia akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk tema mitigasi bencana dan dapat berkolaborasi dengan Jepang terkait tema penurunan resiko bencana.

Sesi terakhir talkshow ditutup oleh Dr. Phil. Hendricus Andy Simarmata selaku perwakilan dari Ikatan Ahli Perencana (IAP) sebagai pembicara ke enam. Andy menerangkan topik mengenai bagaimana IAP melakukan mapping kota tangguh bencana. IAP mengukur tingkat daya hidup pada berbagai daerah di Indonesia menggunakan Indonesia Most Livable City Index (MLCI). Dengan menggunakan MLCI, kemudian dapat diketahui kebutuhan masyarakat yang dapat dijadikan dasar dari rencana pengembangan kedepan. Selain itu, MLCI juga dapat digunakan sebagai acuan mengenai sektor apa saja yang perlu prioritaskan untuk diperbaiki melalui variable-variabel survei.

***

Biro Komunikasi Publik
Fakultas Teknik Universitas Indonesia

X