Pada Jumat, (13/5) lalu, KAGATRIK Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) kembali mengadakan rangkaian webinar LSK Gatrik UI. Untuk webinar kali ini, Ichsan, ST., B.Sc.(Hons), M.Sc., PDEng., seorang praktisi, dosen, dan mentor energi terbarukan dihadirkan untuk membahas tema “Energi Terbarukan untuk Aplikasi Off-Grid“.

On Grid adalah istilah untuk menyebut sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang berfungsi untuk mengubah energi dari panas matahari menjadi energi listrik. Sementara sistem Off Grid adalah sistem yang mengandalkan energi matahari sebagai satu-satunya sumber energi. Sehingga berbeda dengan tipe on-grid, tipe ini tidak disinkronkan dengan listrik PLN. Biasanya sebagai cadangan, didukung dengan genset atau baterai untuk menyimpan energi.  Kedua sistem ini merupakan salah satu solusi paling efektif untuk efisiensi biaya listrik karena mampu menghemat biaya listrik bulanan secara signifikan.

Listrik yang bersumber dari energi keterbarukan akan membantu konsumen dalam menghemat pengeluaran dan memberkan dampak positif bagi bumi. Melalui webinar ini diharapkan akan menambah wawasan konsumen terkait energi terbarukan untuk Aplikasi Off-Grid. Transisi Energi melalui penerapan untuk Aplikasi Off-Grid merupakan salah satu fokus dari pemerintah Indonesia dalam mengatasi kerusakan lingkungan yang timbul akibat pemanasan global.

“Kini, lingkungan kita memiliki tantangan berupa menipisnya lapisan ozon. Hal ini menjadi tantangan pembangkit listrik menangkap Co2. Emisi karbon juga berdampak pada kesehatan masyarakat, yaitu kesehatan paru-paru, otak, kerongkongan, dan perut yang juga ikut menurun. Tak hany itu, bayang-bayang kelangkaan bahan pangan akan menjadi ancaman berbahaya bagi masyarakat ke depannya. Hal ini timbul dari rusaknya tanah akibat penggunaan pupuk kimia. Pupuk tersebut menghilangkan banyak mikroba penghasil fosfor dan fosfor berperan penting dalam pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia telah berkomitmen mempercepat transisi Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 235 pada 2025. Saat ini pemanfaatan EBT sudah mencapai 11,7% dati total bauran energi,” kata Ichsan, ST, BSc(Hons), MSc, PDEng.

Secara ekonomis, pembangunan sistem Off-Grid tidak dapat diterapkan oleh PLN. PLN memiliki dua tanggung jawab dalam pelayanannya, yaitu memberikan pendapatan bagi negara dan melayani masyarakat. Saat ini, PLN juga memiliki utang. Jika pembangunan sistem Off-Grid terjadi dalam waktu dekat hal ini akan mengganggu cash-flow PLN. Ini menjadi celah bagi pihak swastra atau organisasi lain untuk membangun sistem Off-Grid di pedesaan atau kawasan lain yang belum tergabung dengan aliran PLN.

Ditemui dikesempatan terpisah, Dekan FTUI, Prof. Dr. Heri Hermansyah, ST., M.Eng., IPU menyampaikan, “Pengaplikasiaan sistem off-grid di pedesaan dapat berupa Smart Farming, Smart Fishery, Green Mining, Green Data Center, Peternakan Terapung, dan Rehabilitasi Kawan Industri. Pemanfaatan tenaga surya dan penggunaan IOT serta sensor menjadi penentu kegiatan tersebut. Hal ini akan membantu daerah pedesaan atau kawasan lainnya yang saat ini belum terjangkau layanan PLN secara on-grid.”

***

Biro Komunikasi Publik
Fakultas Teknik Universitas Indonesia

FacebookTwitter
X