Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) kembali mencatatkan capaian akademik melalui kelulusan Ajun Tri Setyoko dari Program Doktor Departemen Teknik Industri. Ajun berhasil menyelesaikan studi doktoralnya dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,96 dan meraih predikat cum laude. Dengan capaian tersebut, ia resmi menjadi Doktor ke-33 dari Departemen Teknik Industri dan Doktor ke-675 di lingkungan FTUI.
Dalam sidang terbuka promosi doktor yang diselenggarakan pada 24 Juni 2026, Ajun mempresentasikan disertasinya yang berjudul “Kerangka Kerja Adopsi Teknologi Internet of Things (IoT) Berbasis Actor-Network Theory pada Pengelolaan Limbah Baterai Mobil Listrik di Indonesia.” Penelitian ini menawarkan kerangka kerja untuk mendukung adopsi teknologi Internet of Things (IoT) dalam pengelolaan limbah baterai kendaraan listrik.
Pertumbuhan penggunaan kendaraan listrik diproyeksikan akan meningkatkan jumlah limbah baterai yang memerlukan sistem pengelolaan yang aman, dan berkelanjutan. Namun, hingga saat ini pengelolaan limbah baterai kendaraan listrik masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan sistem pelacakan, risiko kesalahan pencatatan, hingga belum optimalnya integrasi antar pemangku kepentingan dalam rantai pengelolaan limbah. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan risiko lingkungan sekaligus menghambat pengembangan ekonomi sirkular berbasis baterai kendaraan listrik.
Melalui penelitiannya, Ajun mengembangkan kerangka kerja adopsi IoT berbasis Actor-Network Theory (ANT) yang mengintegrasikan aspek teknologi, kebijakan, organisasi, industri, dan masyarakat dalam satu sistem yang saling terhubung. Pendekatan ini menjadi salah satu kebaruan penelitian karena tidak hanya berfokus pada kesiapan teknologi, tetapi juga memetakan hubungan dan peran berbagai aktor yang terlibat dalam proses pengelolaan limbah baterai kendaraan listrik.
Penelitian ini mengidentifikasi sepuluh faktor penghambat utama adopsi IoT, mulai dari masalah kompatibilitas teknologi, kompleksitas sistem, keterbatasan tenaga kerja terampil, hingga dukungan kebijakan pemerintah. Dari hasil analisis, ditemukan bahwa dukungan dan kebijakan pemerintah merupakan faktor paling mendasar yang memengaruhi keberhasilan implementasi IoT dalam pengelolaan limbah baterai kendaraan listrik, diikuti oleh faktor kompatibilitas sistem dan kesempatan uji coba teknologi.
Sebagai solusi, penelitian ini menghasilkan rancangan arsitektur sistem informasi berbasis IoT yang memungkinkan pemantauan identitas, lokasi, suhu, dan kelembapan baterai secara real-time sepanjang rantai logistik limbah baterai. Sistem yang diusulkan mengintegrasikan teknologi NFC, Bluetooth Low Energy (BLE), dan LoRaWAN untuk mendukung pelacakan baterai, pemantauan inventaris, serta pengawasan transportasi limbah secara berkelanjutan. Selain itu, sistem dirancang kompatibel dengan Festronik, platform nasional pengelolaan limbah B3 milik pemerintah, sehingga dapat mendukung transparansi dan efisiensi pengelolaan limbah baterai di Indonesia.
Keunggulan penelitian ini terletak pada kemampuannya menggabungkan pendekatan sosial, organisasi, dan teknologi dalam satu kerangka implementasi yang aplikatif. Hasil validasi oleh pakar menunjukkan bahwa arsitektur yang diusulkan dinilai tepat guna, mudah digunakan, hemat biaya, interoperabel dengan sistem yang telah ada, serta mampu menjawab berbagai hambatan utama dalam adopsi IoT pada pengelolaan limbah baterai kendaraan listrik.
Secara praktis, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh pemerintah, industri pengelola limbah, produsen kendaraan listrik, pengembang teknologi IoT, serta regulator dalam membangun sistem pengelolaan limbah baterai yang lebih aman, transparan, dan berkelanjutan. Penelitian ini juga mendukung implementasi konsep Battery Passport, penerapan kebijakan Extended Producer Responsibility (EPR), serta penguatan ekonomi sirkular yang menjadi bagian penting dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional.
Ajun menjelaskan bahwa Limbah baterai kendaraan listrik memiliki nilai ekonomi sekaligus risiko lingkungan yang tinggi apabila tidak dikelola dengan baik. Melalui penelitian ini, saya berupaya mengembangkan kerangka kerja yang dapat membantu berbagai pemangku kepentingan dalam mengadopsi teknologi IoT secara lebih efektif, sehingga proses pelacakan, pemantauan, dan pengelolaan limbah baterai dapat dilakukan secara transparan dan berkelanjutan
Sidang promosi doktor Ajun dipimpin oleh Prof. Dr.-Ing. Ir. Dalhar Susanto sebagai Ketua Sidang. Adapun promotor dalam penelitian ini adalah Prof. Dr. Sik Sumaedi, S.T., M.S.M., dengan Prof. Dr. Muhammad Suryanegara, S.T., M.Sc., IPU., sebagai ko-promotor. Dewan penguji terdiri atas Dr. Oman Zuas, S.Si., M.Sc.; Prof. Dr. Ir. Muhamad Asvial, M.Eng.; Prof. Dr. Ir. Mochamad Chalid, S.Si., M.Sc.Eng.; serta Dr. rer. pol. Ir. Romadhani Ardi, S.T., M.T.
Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, S.T., M.Sc., Ph.D., menyampaikan, “Transisi menuju kendaraan listrik tidak hanya membutuhkan inovasi pada teknologi kendaraan, tetapi juga kesiapan sistem pendukungnya, termasuk pengelolaan limbah baterai. Penelitian yang dilakukan Ajun menunjukkan bagaimana pendekatan multidisiplin dapat menghasilkan solusi yang relevan untuk mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik yang lebih berkelanjutan di Indonesia,” ujar Prof. Kemas.
Penelitian ini menunjukkan potensi pemanfaatan Internet of Things untuk mendukung tata kelola limbah baterai kendaraan listrik yang lebih terintegrasi, sekaligus mendukung upaya Indonesia dalam membangun ekosistem kendaraan listrik dan ekonomi sirkular yang berkelanjutan.
***
Kantor Komunikasi Publik
Fakultas Teknik Universitas Indonesia







