enid
enid

Doktor FTUI Kembangkan Konsep Tipomorfologi Masjid Perkotaan di Kawasan Segitiga Emas Jakarta

Perdebatan mengenai agama dan kota selama ini didominasi oleh tesis sekularisasi yang memandang urbanisasi dan modernisasi sebagai penyebab merosotnya peran agama di ruang publik. Namun, sejak 1990-an, berbagai kota di Barat justru menunjukkan kebangkitan kembali agama yang melahirkan konsep kota pasca-sekuler. Pendekatan ini, meskipun relevan dalam konteks Barat, kurang mampu menjelaskan kota-kota Asia, di mana agama tetap terlembagakan kuat dalam kehidupan publik. Di Asia, modernitas tidak menggantikan agama, tetapi mengonfigurasi ulang praktik dan ruang keagamaan melalui interaksi antara negara, pasar, dan masyarakat.

Kawasan Segitiga Emas Jakarta menjadi contoh penting bagaimana pembangunan neoliberal, sistem wakaf, kepentingan korporasi, kebijakan negara, dan praktik keagamaan saling berinteraksi membentuk konfigurasi ruang kota yang khas. Di tengah dominasi kawasan bisnis dan komersial, masjid tetap menjadi bagian integral kota sekaligus berperan dalam membangun kohesi sosial, identitas kolektif, dan ruang interaksi masyarakat. Fenomena seperti melubernya salat Jumat ke trotoar dan jalan menunjukkan bahwa praktik keagamaan tidak hanya merupakan ekspresi religius, tetapi juga berkaitan dengan keadilan spasial, tata kelola ruang, serta kebijakan perkotaan yang menuntut keseimbangan antara hak beribadah dan hak akses seluruh warga kota.

Meskipun kajian agama dan kota telah berkembang dalam sosiologi, antropologi, dan geografi, sebagian besar masih berfokus pada aspek sosial-politik dan belum banyak mengintegrasikan perspektif arsitektur dan perancangan kota. Penelitian yang dilakukan oleh Fahdiana Yuniasih ini mengisi kesenjangan tersebut dengan menganalisis bagaimana masjid-masjid di Kawasan Segitiga Emas Jakarta bertahan, beradaptasi, dan bernegosiasi dengan transformasi urban kapitalistik melalui pendekatan tipomorfologi yang mengintegrasikan desain spasial, hukum wakaf, dan morfologi urban. Dengan demikian, masjid dipahami bukan sekadar objek arsitektur, melainkan hasil interaksi antara tata kelola kota, sistem kepemilikan lahan, dan praktik keagamaan dalam ruang urban.

Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana tipomorfologi masjid di Kawasan Segitiga Emas Jakarta mencerminkan proses negosiasi antara ruang sakral dan ruang sekuler di tengah pembangunan kota yang kapitalistik. Dalam penelitian ini Fahdiana mengeksplorasi secara komprehensif berbagai tipomorfologi masjid yang terdapat dalam konteks perkotaan Jakarta. Tujuannya adalah menjelaskan negosiasi antara ruang sakral dan sekuler dalam pembangunan Kota Jakarta yang kapitalistik melalui pendekatan grounded theory, multiple case study, dan analisis tipomorfologi.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa masjid di Kawasan Segitiga Emas Jakarta bukan merupakan elemen yang terpinggirkan oleh modernisasi, melainkan institusi spasial yang terus beradaptasi, bernegosiasi, dan turut membentuk morfologi perkotaan. Transformasi pembangunan memengaruhi struktur ruang, status lahan, dan morfologi kawasan sehingga melahirkan tiga tipomorfologi masjid, yaitu tradisional, modern, dan hibrida. Masjid tradisional menghadapi tekanan gentrifikasi melalui relokasi, perubahan orientasi, dan marginalisasi spasial; masjid modern terintegrasi ke dalam bangunan vertikal sebagai bagian dari infrastruktur gedung; sedangkan masjid hibrida berkembang melalui kolaborasi dengan pemerintah dan korporasi tanpa kehilangan identitas keagamaannya.

Fahdiana Yuniasih menjabarkan penelitiannya ini dalam Sidang Promosi Doktor yang diselenggarakan di Auditorium Adi Karsa Keteknikan K301, Gedung K, Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Depok, pada Rabu (01/07). Melalui disertasinya yang berjudul Tipomorfologi Masjid Perkotaan di Segitiga Emas Jakarta: Negosiasi Sakral dan Sekuler, Fahdiana berhasil meraih gelar Doktor sebagai lulusan ke-31 di Departemen Arsitektur FTUI dan Doktor ke- 686 di FTUI dengan predikat Sangat Memuaskan, IPK 3,92.

Ketua Sidang, Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, S.T., M.Sc., Ph.D., menyatakan “Disertasi ini menunjukkan bahwa pembangunan kota modern tidak harus menggeser nilai-nilai keagamaan. Justru melalui kajian yang komprehensif, penelitian ini membuktikan bahwa ruang sakral dan ruang kapitalistik dapat bernegosiasi secara dinamis dalam membentuk kehidupan perkotaan. Kontribusi penelitian ini tidak hanya memperkaya khazanah teori perkotaan, tetapi juga menawarkan rekomendasi yang aplikatif bagi perencanaan kota yang lebih inklusif, kontekstual, dan peka terhadap kebutuhan masyarakat serta pelestarian budaya lokal.”

Menurut Fahdiana, penelitian ini memberikan kontribusi pada aspek kebijakan, teori, metodologi, dan perencanaan kota. Secara teoritis, penelitian ini memperkaya studi perkotaan Asia dengan menunjukkan bahwa agama tidak terpinggirkan oleh pembangunan kapitalistik, melainkan terus bernegosiasi dengan ruang-ruang kota, sehingga menantang dikotomi sakral-sekuler yang dominan dalam studi perkotaan Barat. Dari sisi metodologis, penelitian ini mengembangkan pendekatan tipomorfologi yang mengintegrasikan dimensi arsitektur, perancangan kota, praktik keseharian, dan wacana keagamaan untuk memahami relasi antara ruang dan praktik religius secara lebih komprehensif. Selain itu, penelitian ini merekomendasikan perlindungan budaya Betawi melalui pelestarian masjid-masjid tradisional di kawasan perkotaan yang terbukti tetap mempertahankan warisan keislaman khas Betawi meskipun mengalami perubahan lingkungan dan demografi.

Penelitian dipresentasikan dalam sidang terbuka promosi doktor yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Kemas M. Ridwan, S.T., M.Sc., Ph.D., sebagai Ketua Sidang merangkap sebagai Penguji, Prof. Ir. Evawani Ellisa, M.Eng., Ph.D., sebagai Promotor, dan Suraya Abdulwahab Afiff, M.A., Ph.D., sebagai Ko-Promotor. Tim Penguji terdiri dari Prof. Dr. Delik Hudalah, S.T., M.T., M.Sc., Dr. Ir. Achmad Hery Fuad, M.Eng., Joko Adianto, ST., M.Ars., Ph.D., dan Ir. Azrar Hadi Ramli Ph.D.

***

Kantor Komunikasi Publik

Fakultas Teknik Universitas Indonesia

X