Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) menyelenggarakan sesi pelatihan intensif yang berfokus pada teknologi kecerdasan buatan pada Selasa, 23 Juni 2026. Acara ini diawali dan dibuka secara langsung oleh Nanda Syakirah selaku Associate Program Manager dari Dicoding Indonesia, yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan hangat dari perwakilan Departemen Teknik Elektro UI, Dr. Ir. Muhammad Salman, S.T., M.I.T. Pelatihan ini turut menghadirkan tim pakar dari Dicoding Indonesia lainnya, yaitu Oon Arfiandwi (Chief Learning Officer), Salma Nadhira Danuningrat (Public Affairs), dan Indratama Pangasian Manalu (Curriculum Developer). Sebagai informasi, Dicoding Indonesia merupakan platform edukasi teknologi terdepan di Indonesia yang secara aktif menjembatani kebutuhan talenta digital melalui berbagai program sertifikasi dan pelatihan teknologi berstandar industri.
Sesi pemaparan utama secara komprehensif membedah kapabilitas ekosistem Google AI, dengan fokus khusus pada pemanfaatan Gemini di lingkungan akademik. Kehadiran kecerdasan buatan ini tidak ditujukan untuk menggantikan peran esensial seorang pendidik, melainkan diposisikan sebagai asisten cerdas berbasis multimodal yang mampu memproses teks, gambar, maupun audio. Di tangan para dosen, teknologi ini dapat dimanfaatkan secara strategis untuk merancang kurikulum, menyusun draf silabus, membuat rubrik penilaian, hingga memfasilitasi evaluasi dan umpan balik akademik secara lebih efisien dan terstruktur.
Untuk mendapatkan hasil luaran yang maksimal dari kecerdasan buatan, para peserta dibekali dengan metode perumusan instruksi (prompting) yang efektif. Tim pemateri menekankan penggunaan kerangka dasar yang mencakup empat elemen utama: Persona, Tugas, Konteks, dan Format. Di samping itu, diperkenalkan pula teknik Interview-Driven Prompting, sebuah pendekatan interaktif di mana pengguna menginstruksikan AI untuk mengajukan serangkaian pertanyaan klarifikasi terlebih dahulu guna menghasilkan respons akhir yang paling presisi. Pelatihan ini juga mengupas perbedaan fungsi antara Gemini Gems, yang dapat dikustomisasi untuk mengeksekusi tugas spesifik yang berulang, dengan NotebookLM, yang bertindak sebagai mitra riset berbasis sumber referensi (source-grounded) untuk menganalisis dokumen panjang tanpa risiko keluar dari konteks.
Menutup rangkaian pelatihan, isu krusial mengenai etika penggunaan AI dan integritas akademik menjadi penekanan utama. Para akademisi secara tegas diimbau untuk selalu mewaspadai potensi halusinasi informasi yang dihasilkan oleh mesin, mewajibkan validasi manusia secara berkala, serta menjaga kerahasiaan institusi dengan tidak memasukkan data konfidensial ke dalam platform. Pada prinsipnya, pemanfaatan kecerdasan buatan di lingkungan kampus harus disikapi secara transparan dan murni digunakan sebagai pendamping proses berpikir (co-pilot), di mana tanggung jawab keilmuan serta ketajaman nalar mutlak tetap berada di tangan manusia.
***
Kantor Komunikasi Publik
Fakultas Teknik Universitas Indonesia



