Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Indonesia (DTK FTUI) menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “AISeries x AISC” pada Rabu, 1 Juli 2026. Acara ini digagas oleh AIChE UI Student Chapter (AIChE UI SC), organisasi kemahasiswaan yang berafiliasi dengan American Institute of Chemical Engineers (AIChE). Acara ini sebagai bagian dari rangkaian program tahunan AIChE Indonesia Series (AISeries) yang bersinergi dengan agenda AIChE Indonesia Student Conference (AISC), forum tahunan yang mempertemukan mahasiswa Teknik Kimia dari berbagai AIChE Student Chapter se-Indonesia.
Kuliah umum ini dibuka secara resmi oleh Prof. Ir. Dewi Tristantini, M.T., Ph.D., Guru Besar Bidang Ilmu Herbal dan Kosmetik Departemen Teknik Kimia FTUI sekaligus pendiri HerCos (Herbal and Cosmetic) Research Group, yang menyambut kehadiran dua akademisi tamu dari Chang Gung University, Taiwan, sebagai pemateri utama.
Dalam sambutannya, Prof. Dewi menekankan pentingnya kolaborasi akademik lintas negara sebagai sarana bertukar wawasan keilmuan sekaligus memperluas jejaring internasional bagi sivitas akademika Teknik Kimia UI, khususnya pada bidang teknologi berkelanjutan yang menjadi isu strategis global saat ini. Kehadiran kedua pemateri dari Chang Gung University turut mencerminkan eratnya jalinan riset antara institusi tersebut dan Indonesia, mengingat sejumlah nama periset asal Indonesia tercantum sebagai kontributor dalam publikasi riset yang dipaparkan pada kesempatan tersebut.
Pemateri pertama, Wei-Fan Kuan, Ph.D., Associate Professor pada Department of Chemical and Materials Engineering sekaligus Associate Director Center for Sustainability and Energy Technologies, Chang Gung University, membawakan materi berjudul “Sustainable Lithium Battery Innovation: From Materials Design to Circular Recycling”. Ia menyoroti melonjaknya kebutuhan baterai litium seiring pesatnya adopsi kendaraan listrik, sekaligus tantangan pengelolaan baterai bekas yang menyimpan logam-logam berharga seperti nikel, kobalt, mangan, dan litium.
Kuan memperkenalkan metode regenerasi katode lithium iron phosphate (LFP) melalui reaksi relitiasi proses pengembalian ion litium ke dalam struktur katode yang telah terdegradasi yang mampu mengembalikan kapasitas baterai hingga sekitar 97 persen, serta teknik pemisahan komponen katode berbasis air memanfaatkan lignin, senyawa alami dari limbah biomassa seperti batang markisa, tandan kosong kelapa sawit, dan kulit bambu air, untuk menggantikan pelarut kimia beracun yang selama ini lazim digunakan di industri.
Kuan juga memaparkan pengembangan baterai litium-logam tanpa anode (anode-free lithium-metal battery) yang berpotensi meningkatkan densitas energi sekaligus menyederhanakan proses produksi baterai. Menurut Kuan, baterai masa depan yang unggul perlu memenuhi tiga aspek utama, yaitu ramah proses daur ulang, berdensitas energi tinggi, serta mudah dan stabil diproduksi.
Pemateri kedua, Jenn Fang Su, Ph.D., Associate Professor pada Department of Chemical and Materials Engineering, Chang Gung University, memaparkan materi bertajuk “Electrochemical Membranes and Catalysts for Sustainable Environmental Solutions”. Su menguraikan kelemahan proses produksi amonia konvensional melalui metode Haber-Bosch yang membutuhkan energi sangat besar pada suhu 400–500°C dan tekanan 150–300 atmosfer serta menyumbang sekitar 1,4 persen emisi karbon dioksida global, kemudian menawarkan alternatif berupa konversi limbah nitrat menjadi amonia melalui proses elektrokimia yang rendah emisi karbon.
Ia menjelaskan pengembangan membran selektif untuk menyaring ion nitrat serta rekayasa struktur katalis tembaga dalam berbagai bentuk foil, partikel, hingga struktur berpori guna meningkatkan selektivitas dan efisiensi reaksi. Salah satu inovasi yang menjadi sorotan adalah metode sintesis cepat berbasis pemanasan listrik (Joule heating) untuk menghasilkan katalis bimetalik maupun multielemen (kombinasi dua logam atau lebih) secara homogen hanya dalam hitungan detik, yang terbukti meningkatkan performa konversi nitrat menjadi amonium. Menurut Su, riset ini berpotensi besar diterapkan sebagai solusi pengolahan air limbah domestik maupun industri yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Selain memaparkan hasil riset, kedua pemateri turut berbagi wawasan mengenai peluang kolaborasi dan studi lanjut bagi mahasiswa internasional di Chang Gung University, termasuk skema pertukaran jangka pendek seperti Taiwan Experience Education Program (TEEP) serta beasiswa untuk program magister dan doktor. Informasi ini disambut antusias oleh peserta yang hadir, mengingat kedua topik yang dibawakan inovasi baterai berkelanjutan dan solusi elektrokimia untuk pengolahan limbah merupakan isu yang relevan dengan tantangan energi dan lingkungan yang tengah dihadapi dunia, termasuk Indonesia.
Kuliah umum AISeries x AISC ini menjadi salah satu wujud komitmen Departemen Teknik Kimia FTUI dan AIChE UI SC dalam membuka ruang diskusi ilmiah lintas negara, sekaligus memperkaya wawasan mahasiswa mengenai perkembangan teknologi kimia yang berorientasi pada keberlanjutan. Melalui forum semacam ini, mahasiswa Teknik Kimia UI diharapkan semakin terpacu untuk turut berkontribusi mengembangkan solusi-solusi inovatif dalam menjawab tantangan energi dan lingkungan di masa depan.
***
Kantor Komunikasi Publik
Fakultas Teknik Universitas Indonesia



