Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) bersama University of Birmingham menyelenggarakan Workshop 2026 bertajuk “Zero Emission Cooling Hub for Small-Scale Fisheries: Research Collaboration Universitas Indonesia and University of Birmingham” pada Selasa (21/07) di Gedung i-Cell Lantai 2 FTUI, Depok. Kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi riset kedua universitas dalam mengembangkan sistem rantai dingin (cold chain) bebas emisi bagi sektor perikanan skala kecil di Indonesia. Workshop menghadirkan pembicara dari kalangan akademisi dan industri yang memaparkan berbagai solusi teknologi pendinginan rendah emisi, mulai dari refrigeran alami hingga sistem energi terbarukan.
Perikanan skala kecil memiliki peran vital bagi Indonesia, dengan sekitar 95 persen produksi perikanan nasional berasal dari sektor ini, dan 526 dari 576 pelabuhan perikanan di Indonesia tergolong operasi skala kecil. Meski demikian, sektor ini masih menghadapi tantangan besar berupa minimnya infrastruktur pendingin, yang menyebabkan kehilangan hasil tangkapan pascapanen (post-harvest loss) dan penalti harga jual. Keterbatasan akses listrik di banyak wilayah pesisir turut membuat sejumlah fasilitas pendingin masih bergantung pada genset diesel, sementara penggunaan es balok berbahan plastik yang kurang tahan lama dan terbatas jumlahnya semakin memperberat kondisi rantai dingin di lapangan.
Asep Kurniawan, M.T., Designer, Trainer, dan Founder Askur Private Refrigeration System Consultant Indonesia, memaparkan pentingnya beralih ke refrigeran alami seperti amonia (NH3) dan karbon dioksida (CO2) yang memiliki potensi pemanasan global (Global Warming Potential/GWP) mendekati nol, jauh lebih rendah dibandingkan refrigeran sintetis seperti Freon maupun HFC. Ia memperkenalkan konsep “Zero Emission Cooling Hub” yang mengintegrasikan empat zona, yakni sumber energi dari panel surya, sistem pendingin kaskade NH3/CO2 dengan penyimpanan termal berbasis Phase Change Material (PCM), ruang penyimpanan bersuhu presisi, hingga logistik bersih menggunakan truk listrik dan kotak pendingin pasif. Ia menambahkan bahwa sistem refrigerasi amonia saat ini telah diterapkan di berbagai fasilitas pengolahan ikan di Indonesia, di antaranya di Jepara, Aceh, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Bitung, dan Makassar.
Dr. Arman Sastraatmaja dari University of Birmingham memaparkan hasil simulasi sistem energi terbarukan hibrida menggunakan perangkat lunak HOMER (Hybrid Optimisation Model for Electric Renewables) pada dua studi kasus, yaitu fasilitas cold storage di TPI Cituis, Tangerang, dan mesin es tenaga surya di Kawa, Maluku. Untuk studi kasus Cituis, simulasi menunjukkan kombinasi panel surya, baterai, dan generator biogas mampu mencapai 100 persen energi terbarukan dengan emisi karbon mendekati nol, sedangkan untuk Kawa, kombinasi serupa terbukti menjadi opsi dengan keseimbangan biaya dan keandalan terbaik dibandingkan skenario lainnya. Pemaparan ini turut dikaitkan dengan program pemerintah Kampung Nelayan Merah Putih serta tantangan infrastruktur khas wilayah pesisir, seperti korosi akibat air laut, risiko banjir rob, dan keterbatasan akses suku cadang di pulau-pulau terpencil.
Dr. Eng. Ir. Muhammad Arif Budiyanto, S.T., M.T., IPM. dari Universitas Indonesia memperkenalkan sejumlah inovasi yang dikembangkan oleh Marine System Engineering, Transportation and Logistics Research Group UI untuk mendukung ekosistem rantai pasok perikanan skala kecil yang rendah emisi. Inovasi tersebut meliputi kapal listrik penangkap ikan skala kecil dan menengah, cold storage tenaga surya berkapasitas 10 ton di Cituis, desain modular cold storage 20 kaki, hingga proyek pengembangan kapal ikan 30 GT yang melibatkan sejumlah lembaga seperti BPPT, BKI, Kemenhub, dan KKP. Riset ini juga mencakup pengembangan sistem pemantauan elektronik hasil tangkapan bernama Fish-Mon (FVEO), yang telah diujicobakan di Pelabuhan Ratu untuk mencatat data lokasi dan pergerakan kapal.
Salah satu materi workshop turut menyoroti studi kasus konektivitas rantai dingin di kawasan kepulauan terpencil, seperti Halmahera Selatan, Maluku Utara, yang menggambarkan model logistik hub-and-spoke untuk menghubungkan desa-desa nelayan terpencil dengan fasilitas pengolahan dan pelabuhan ekspor. Dengan skema tersebut, nelayan di berbagai pulau seperti Makian, Kayoa, dan Obi memperoleh kepastian bahwa hasil tangkapan mereka akan dibeli secara berkala, setiap satu hingga dua hari sekali, sekaligus mendapat jaminan perawatan mesin pendingin dan pembangkit listrik di lokasi.
Selain ketiga pembicara di atas, workshop turut menghadirkan Dr. Renaldi dari University of Birmingham, Ir. RP Bugie Pudjotomo, S.T., M.M., IPM, Asean Eng, selaku Direktur PT United Refrigeration, dan Dr. Eng. Arnas dari Universitas Indonesia, dengan Dany H. Priatno, M.T. bertindak sebagai moderator.
Dekan FTUI, Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, S.T., M.Sc., Ph.D., menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kolaborasi riset antara FTUI dan University of Birmingham ini. Menurutnya, kerja sama lintas negara semacam ini penting untuk terus didorong agar dapat menghasilkan solusi teknologi yang nyata dan berdampak bagi keberlanjutan sektor perikanan skala kecil serta kesejahteraan masyarakat pesisir di Indonesia.
***
Kantor Komunikasi Public
Fakultas Teknik Universitas Indonesia








