Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia (DTM FTUI) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia menyelenggarakan Program Diaspora Berdampak 2026 dengan tema “Teknologi Hidrogen Bersih dan Sistem E-Refinery Modular: Pengalaman dari Startup Deep-tech di Amerika Serikat”. Kegiatan ini terbagi dalam dua fase. Fase luring berlangsung lima hari, Senin hingga Jumat, 12–16 Oktober 2026, di Auditorium IDE Lantai 2 FTUI, Depok, sedangkan fase daring dilaksanakan pada 26–30 Oktober 2026.
Hari pertama digelar pada Senin, 12 Oktober 2026, pukul 08.00–12.00 WIB dengan topik “Dekarbonisasi Global: Posisi Indonesia dan FlexiH”. Tiga pembicara hadir pada sesi ini, yaitu Dr. Ir. Dadan Kusdiana, M.Sc. (Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional), Ardy Muawin (Managing Director Industrialisasi BPI Danantara Indonesia), dan narasumber utama program, Natarianto Indrawan, Ph.D. (Founder & CEO FlexiH Inc., Amerika Serikat, sekaligus alumnus Universitas Indonesia). Dekan FTUI, Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, S.T., M.Sc., Ph.D., menyambut baik penyelenggaraan kegiatan ini. “Kami senang sekali dengan diadakannya acara ini. Semoga memberikan harapan dan peluang pekerjaan serta inovasi untuk membangun energi yang lebih efisien,” ujarnya.
Pada sesi kebijakan, Dadan Kusdiana memaparkan arah Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025. Kebijakan itu menargetkan bauran energi baru dan terbarukan sebesar 19–23 persen pada 2030 dan 70–72 persen pada 2060, dengan puncak emisi gas rumah kaca diproyeksikan terjadi pada 2035. Untuk hidrogen, ia menjelaskan bahwa draf Rencana Umum Energi Nasional memuat pemanfaatan hidrogen hijau dan amonia sebagai energi mulai 2031, dengan target 5,68 juta ton setara minyak (TOE) pada 2040. “Bahan baku produksi hidrogen tersedia melimpah di Indonesia,” kata Dadan dalam paparannya. Ia juga menyebut capaian yang sudah berjalan, antara lain 21 pabrik hidrogen hijau milik PLN, lima stasiun pengisian hidrogen yang beroperasi, dan penerapan co-firing amonia sebesar 3 persen di PLTU Labuan. Pada sesi berikutnya, Ardy Muawin menyampaikan harapannya bagi sektor industrialisasi di bawah BPI Danantara Indonesia. “Semoga sektor industrialisasi Danantara dapat menerapkan standar kebersihan yang ada,” ujarnya.
Natarianto Indrawan membuka paparannya dengan menceritakan perjalanan kariernya, mulai dari studi sarjana teknik di Universitas Indonesia, bekerja pada dukungan teknis kilang minyak bumi di Indonesia sejak 2003, menempuh magister di Chonnam National University, Korea Selatan, dan doktor di Oklahoma State University, Amerika Serikat, hingga empat tahun menjadi anggota inti tim riset di National Energy Technology Laboratory (NETL), Departemen Energi Amerika Serikat. Ia kemudian mengajak peserta menilai ketahanan energi dari empat sisi, yakni ketersediaan sumber energi, keterjangkauan akses, keterjangkauan harga, dan keberterimaan dampak lingkungan. Menurutnya, model yang dominan saat ini meminta suatu wilayah mengimpor teknologi, listrik murah, dan skala produksi. Bila ketiganya gagal, wilayah itu kembali mengimpor produk jadi seperti LPG, amonia, dan bahan bakar.
Sebagai alternatif, Natarianto memperkenalkan e-refinery, yaitu platform pengolahan yang menerima material berkarbon apa pun yang tersedia di suatu wilayah, antara lain residu biomassa, batubara peringkat rendah, gas lapangan kecil, limbah plastik dan ban bekas, serta karbon dioksida dari industri. Material tersebut diolah melalui gasifikasi plasma dan reformasi menjadi gas sintesis, lalu disusun kembali menjadi produk yang dibutuhkan daerah itu, seperti hidrogen, amonia, metanol, DME, dan bahan bakar penerbangan. Dengan pendekatan ini, pertanyaannya berubah dari apakah suatu wilayah memiliki listrik terbarukan murah menjadi apakah wilayah itu memiliki material berkarbon. Dalam pemetaan yang ia tampilkan, residu biomassa banyak tersedia di Riau, Kalimantan, dan Sulawesi Selatan, lignit di Sumatera Selatan dan Kalimantan, gas lapangan kecil di Natuna, Jawa Timur, dan Papua Barat, serta limbah plastik di kota besar seperti Jabodetabek dan Surabaya.
Natarianto juga menjelaskan bahwa banyak unit kecil yang dibangun bertahap lebih tahan terhadap kegagalan dibandingkan satu pabrik besar, karena unit yang bermasalah tidak menghentikan seluruh pasokan. Pengolahan di dekat sumber umpan pun memperpendek rantai pasok. “Rantai yang memendek adalah rantai yang lebih sulit diputus,” kata Natarianto. Ia mengakui sejumlah kendala, di antaranya radius pengumpulan biomassa yang bila melampaui sekitar 50 kilometer biasanya membuat biaya angkut menghapus keunggulan biaya, mutu pemilahan sampah di hulu, serta kebutuhan studi umpan, kepastian pembeli produk, dan tenaga terampil di setiap wilayah. Ia menegaskan bahwa angka keekonomian dalam paparannya bersifat indikatif dan pemetaan wilayah hanya ilustrasi yang masih memerlukan kajian tersendiri. Menurutnya, sebagian besar pekerjaan riset yang dibutuhkan, seperti analisis tekno-ekonomi, verifikasi neraca energi, dan penilaian siklus hidup, dapat dikerjakan di lingkungan Departemen Teknik Mesin.
Di akhir paparan, Natarianto merumuskan tiga kebutuhan yang harus berjalan bersamaan, yaitu kerangka kebijakan yang menilai intensitas karbon terukur, pembiayaan yang mengenali penahapan proyek, dan insinyur yang siap mengoperasikan teknologinya. “Ketahanan energi dibangun dari apa yang sudah ada di tempat itu,” ujarnya. Materi tentang FlexiH Inc. disampaikan sebagai studi kasus pembelajaran, bukan penawaran bisnis. Program Diaspora Berdampak 2026 akan berlanjut melalui fase daring pada 26–30 Oktober 2026.
***
Kantor Komunikasi Publik
Fakultas Teknik Universitas Indonesia







