Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) terus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendorong internasionalisasi pendidikan, pengembangan riset, serta hilirisasi inovasi melalui kolaborasi dengan mitra internasional dan industri. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pendirian Indonesia–China Center for Education, Science, and Technology (ICCEST) sebagai wadah kolaborasi Indonesia dan Tiongkok di bidang pendidikan, sains, dan teknologi.
Rangkaian kegiatan diawali dengan audiensi FTUI ke Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) pada 2 September 2026. Audiensi tersebut membahas penguatan internasionalisasi pendidikan tinggi di Indonesia melalui kolaborasi dan kerja sama dengan mitra asing, sekaligus peningkatan hubungan antara perguruan tinggi dan industri untuk mendorong hilirisasi hasil-hasil riset.
Kolaborasi tersebut kemudian diperkuat melalui penandatanganan peresmian ICCEST dalam rangkaian Opening Seminar Nasional bertema “Engineering Innovations for Sustainable Industry and Future Society” pada 3 September 2026. Pusat ini diharapkan menjadi ruang strategis untuk memperluas kerja sama pendidikan, riset bersama, pertukaran talenta, hingga pengembangan dan transfer teknologi antara Indonesia dan Tiongkok.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D., menyampaikan bahwa keberadaan ICCEST sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia dan teknologi nasional. Menurutnya, tantangan seperti hilirisasi, kendaraan listrik, transisi energi, dan kecerdasan buatan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga menguasai dan menciptakannya.
“Saya menyambut baik kehadiran Indonesia-China Center for Education, Science, and Technology atau ICCEST. Saya berharap ICCEST menjadi wahana nyata bagi penguatan riset bersama, pertukaran talenta, dan transfer teknologi antara Indonesia dan Tiongkok,” ujar Prof. Brian.
Lebih lanjut, Prof. Brian menekankan bahwa kerja sama internasional perlu memberikan dampak jangka panjang terhadap penguatan kapasitas Indonesia. “Kerja sama internasional tidak boleh berhenti pada investasi. Setiap investasi teknologi harus meninggalkan kapasitas bagi Indonesia: insinyur yang semakin unggul, laboratorium yang semakin kuat, serta kemampuan bangsa untuk mengembangkan teknologinya sendiri,” tuturnya.
Senada dengan hal tersebut, Dekan FTUI, Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, S.T., M.Sc., Ph.D., menilai kolaborasi internasional perlu diarahkan pada kerja sama yang menghasilkan manfaat nyata bagi pendidikan, penelitian, dan industri. Menurutnya, kehadiran ICCEST menjadi bagian dari langkah FTUI dalam memperluas jejaring global sekaligus memperkuat ekosistem inovasi yang terhubung dengan kebutuhan industri.
“Kami ingin membangun kolaborasi internasional yang tidak hanya memperluas jejaring, tetapi juga menghasilkan dampak nyata. Melalui ICCEST, kami berharap kerja sama pendidikan dan riset dapat berkembang menjadi inovasi yang dapat dimanfaatkan oleh industri dan masyarakat, sekaligus memperkuat kapasitas talenta Indonesia,” ujar Prof. Kemas.
Melalui ICCEST, FTUI berkomitmen menjadikan kolaborasi internasional sebagai bagian dari penguatan pendidikan tinggi yang berorientasi global dan berdampak. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, mitra internasional, dan industri diharapkan dapat mempercepat lahirnya talenta unggul serta inovasi teknologi yang mendukung kebutuhan industri dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
***
Kantor Komunikasi Publik
Fakultas Teknik Universitas Indonesia




